Jakarta – Pedagang tahu dan tempe di berbagai daerah kini menjerit akibat anjloknya pendapatan yang dipicu oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Kondisi ini memaksa para pelaku usaha memutar otak, mulai dari menaikkan harga jual hingga memperkecil ukuran produk demi menekan biaya produksi yang membengkak.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan, pemerintah saat ini tengah memantau ketat pergerakan harga dan pasokan kedelai di pasar. Meski tahu dan tempe tidak masuk dalam daftar komoditas yang dipantau melalui mekanisme Harga Eceran Tertinggi (HET), pihaknya berkomitmen menjaga stabilitas bahan baku utama tersebut.
“Kita terus memantau, masalahnya apakah karena harga impornya ya. Tapi kita terus menjaga pasokannya harus stabil. Tapi kita nanti lakukan pengawasan, jangan sampai naik terus ya,” ujar Budi di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (8/6).
Budi menambahkan, hingga saat ini Kementerian Perdagangan belum menerima laporan resmi dari para pengrajin terkait kendala yang dihadapi. Namun, ia menegaskan bahwa pemerintah akan segera mempelajari situasi di lapangan dan membuka ruang komunikasi untuk mencari solusi terbaik bagi para pedagang.
“Nanti kita pelajari lagi ya, itu kan memang kedelai itu dari impor. Jadi kita usahakan pasokannya terjaga dan nanti bisa kita komunikasikan, kita carikan solusinya nanti yang terbaik,” tambahnya.
Dampak pelemahan rupiah ini sebelumnya telah dikonfirmasi oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Ia menyebut kenaikan biaya bahan baku impor telah menekan margin keuntungan pedagang secara signifikan.
Di lapangan, realita pahit dirasakan langsung oleh para pedagang. Joni, seorang pedagang tempe di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, mengaku omzetnya merosot hingga 35 persen dalam sebulan terakhir. Hal serupa dialami Siti Ayu, pedagang sayur di kawasan Kemayoran, yang omzet hariannya turun sekitar 12,5 persen.
Untuk menyiasati kondisi tersebut, Siti terpaksa melakukan efisiensi dengan memperkecil ukuran tahu dan tempe yang dijual kepada konsumen. Langkah ini diambil sebagai upaya terakhir agar ia tetap bisa berjualan di tengah daya beli masyarakat yang tertekan.




















