Jakarta – PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) mempercepat pengembangan infrastruktur LNG midstream untuk menjaga pasokan energi primer dan menekan biaya produksi listrik (BPP) di seluruh Indonesia.
Langkah ini dinilai krusial seiring meningkatnya kebutuhan listrik nasional dan penurunan pasokan gas pipa ke sejumlah sistem kelistrikan.
General Manager Unit Proyek (UP) GBM PLN EPI, Agus Purnomo, menegaskan peran penting PLN EPI sebagai tumpuan utama penyediaan energi primer untuk pembangkit PLN, termasuk gas, LNG, BBM, batubara, hingga bioenergi.
“PLN EPI harus memastikan ketersediaan feedstock untuk mendukung kesiapan pembangkit,” ujar Agus dalam ajang Knowledge Hub Electricity Connect 2025 di Jakarta, Selasa (25/11/2025).
Agus memaparkan proyeksi kebutuhan listrik nasional yang terus meningkat, mencapai puncak 511 TWh pada 2034.
Meskipun Pulau Jawa tetap dominan, pertumbuhan signifikan terjadi di Kalimantan dan Sulawesi.
Di sisi lain, pasokan gas pipa terus menyusut, sementara konsumsi BBM untuk pembangkit melonjak 10-15 persen sejak 2023.
“Kenaikan konsumsi BBM ini tentu membebani Biaya Pokok Produksi Listrik (BPP). Konversi BBM ke gas bukan lagi opsi, melainkan kebutuhan mendesak,” tegasnya.
PLN EPI mencatat kebutuhan LNG mencapai 90 kargo tahun ini dan diperkirakan melonjak menjadi 104 kargo pada tahun depan.
“Kami mengembangkan infrastruktur LNG Midstream agar sistem suplai lebih fleksibel dan efisien. Demand dan Supply harus terintegrasi,” jelas Agus.
Proyek LNG Midstream dibagi menjadi dua fase. Fase pertama meliputi pembangunan fasilitas suplai di Nias, enam titik di Sulawesi-Maluku, delapan titik di Nusa Tenggara, dan empat titik di Papua Utara.
Proyek Nias saat ini dalam tahap akhir konstruksi dan ditargetkan beroperasi penuh pada Januari 2026.
Fase selanjutnya akan mencakup wilayah yang masih bergantung pada BBM, termasuk Halmahera Timur, Bangka Belitung, hingga beberapa titik di Kalimantan.
PLN EPI juga memprioritaskan penguatan suplai gas di Jawa-Madura-Bali dengan membangun sejumlah FSRU baru, termasuk FSRU Jawa Barat 2 di Muara Tawar.





















