Jakarta – Kenaikan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen diprediksi bakal memicu lonjakan harga kendaraan bermotor di pasar Indonesia. Kebijakan moneter ini secara langsung meningkatkan beban biaya yang harus ditanggung masyarakat saat hendak membeli mobil maupun motor.
Kepala Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi INDEF, Andry Satrio Nugroho, mengungkapkan bahwa peningkatan suku bunga ini membuat akses kepemilikan kendaraan menjadi lebih mahal. Kondisi tersebut diperkirakan akan menekan permintaan pasar secara signifikan.
Menurut Andry, konsumen kini cenderung lebih selektif dalam menggunakan uangnya. Alih-alih melakukan pembelian barang konsumtif seperti kendaraan, masyarakat lebih memilih menyimpan dana mereka di instrumen surat berharga yang menawarkan keuntungan lebih menarik di tengah tingginya suku bunga.
Dampak dari penurunan minat beli ini tidak hanya dirasakan oleh konsumen, tetapi juga membatasi ruang gerak produsen untuk melakukan ekspansi bisnis. Meski begitu, para investor otomotif diyakini tidak akan hengkang dari pasar Indonesia mengingat potensi ukuran pasar domestik yang masih sangat besar.
Andry menambahkan, pelaku industri kemungkinan besar akan mengambil langkah antisipatif dengan menahan laju produksi. Untuk menjaga gairah industri, fokus kini beralih pada upaya mendorong kinerja ekspor.
Namun, ia mencatat bahwa para pelaku usaha masih memiliki keraguan terkait efektivitas kebijakan kelembagaan ekspor yang baru saja dibentuk. Ketidakpastian tersebut membuat industri otomotif perlu mencermati strategi yang tepat agar tetap kompetitif di tengah kondisi ekonomi yang menantang.




![[Foto] Antusiasme pelari ikuti ajang Mangkunegaran Run 2026](https://persen.id/wp-content/uploads/2026/05/864e065e68e8f4b2b7889b6d0066691a.jpg)



















