IHSG Terkoreksi 8,35 Persen, Sektor Ini Alami Tekanan Terberat

persen

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan akhir pekan pada Jumat (22/5/2026) di zona hijau dengan penguatan 67,10 poin atau 1,10% ke level 6.162,04. Meski mampu bangkit pada sesi penutupan, indeks secara akumulatif masih mencatatkan penurunan sebesar 8,35% dalam sepekan terakhir.

Pergerakan positif pada penutupan pasar ini didorong oleh dominasi kenaikan harga saham di mayoritas sektor. Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat sebanyak 449 saham menguat, 251 saham melemah, dan 118 saham tidak mengalami perubahan harga dengan total nilai transaksi mencapai Rp 17,90 triliun.

Tim Riset Pilarmas mengungkapkan bahwa sektor basic materials memimpin laju penguatan dengan lonjakan sebesar 6,85%. Kondisi ini kontras dengan sektor keuangan yang justru berada di posisi terendah setelah terkoreksi 0,28%.

Kenaikan indeks juga mendapat sentimen positif dari rumor penundaan implementasi kebijakan ekspor batubara dan komoditas strategis hingga 1 Januari 2027. Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, menilai penundaan tersebut memberikan periode transisi yang lebih panjang bagi eksportir maupun pembeli internasional untuk menyesuaikan diri dengan regulasi baru.

Sejalan dengan sentimen tersebut, sektor energi dan basic materials mencatatkan performa gemilang dengan kenaikan masing-masing 6,85% dan 4,84%.

Sepanjang perdagangan, sejumlah saham mencatatkan penguatan signifikan, di antaranya PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Darma Henwa Tbk (DEWA), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), dan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA). Selain itu, saham seperti DFAM, CTBN, PBSA, dan TALF juga masuk dalam daftar penguatan terbesar.

Sebaliknya, beberapa saham yang mengalami tekanan jual atau penurunan terbesar pada sesi ini meliputi AMMN, CUAN, ASII, TLKM, EMTK, serta PGLI, ASPR, BOBA, LCKM, dan APIC.

Rekomendasi