Jakarta – Gagasan ekonomi hijau Presiden Prabowo Subianto menghadapi ujian berat. Bencana hidrometeorologi yang melanda Sumatera dan kemenangan gugatan nelayan Indonesia di Swiss menjadi sorotan tajam.
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Alex Indra Lukman, menilai dua peristiwa ini menjadi momentum penting. Formula ideal untuk pengembangan ekonomi kreatif, hijau, dan biru harus segera ditemukan.
“Dua peristiwa beriringan ini telah membuktikan bahwa upaya pengembangan ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru sebagai strategi utama dalam mencapai kemandirian bangsa, harus segera menemukan formula idealnya,” tegas Alex, Rabu (31/12).
Alex mendesak para pembantu presiden untuk bergerak cepat menerjemahkan Asta Cita. Hilirisasi, industrialisasi, dan pembangunan SDM harus selaras dengan kelestarian alam.
Bencana di Sumatera, menurut Alex, tak lepas dari deforestasi akibat perkebunan sawit dan pertambangan. Ia mengingatkan pengambilalihan 3,1 juta hektare sawit ilegal oleh negara harus disertai pemetaan yang berpihak pada ekonomi hijau.
“Seharusnya, pengambilalihan 3,1 juta hektare sawit itu disertai pemetaan yang lebih memihak gagasan ekonomi hijau,” kata Alex.
Kebun sawit di hutan lindung dan konservasi alam, lanjutnya, harus diperlakukan sama dengan kasus pencabutan sawit di Taman Nasional Teso Nilo.
Alex menekankan, Indonesia sebagai pemilik hutan tropis terluas, seharusnya menjadi garda terdepan dalam isu perubahan iklim.
Kemenangan gugatan nelayan di Pengadilan Swiss, menurutnya, menjadi preseden penting. “Ini merupakan preseden yang harus dicermati presiden, dalam menelurkan kebijakannya di masa depan,” pungkasnya.




















