Suku Bunga Turun, Sektor Unggulan Berputar: Saham Bank Penopang IHSG 2026

persen

Jakarta – Sektor perbankan diproyeksikan menjadi motor penggerak awal Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada 2026, mengambil keuntungan dari celah waktu penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI). Meskipun efek penurunan suku bunga terhadap sektor riil dan pasar saham umumnya tidak instan, margin bunga bersih (NIM) perbankan justru berpotensi menguat di awal tahun depan.

Potensi penguatan ini muncul karena biaya dana (funding cost) perbankan diperkirakan telah lebih dulu turun mengikuti kebijakan BI, sementara suku bunga kredit kepada nasabah cenderung baru menyesuaikan setelah jeda waktu enam hingga 12 bulan. Fenomena ini diperkirakan dapat mempertebal margin keuntungan bank pada kuartal pertama dan kedua 2026, menjadikannya katalis kuat bagi investor.

Sejumlah sektor yang sensitif terhadap suku bunga, khususnya perbankan, mulai dilirik sebagai calon penopang utama IHSG. Namun, Analis Isfhan Helmy menjelaskan bahwa dampak penurunan suku bunga BI tidak serta-merta dirasakan langsung oleh pasar.

Meskipun BI telah memangkas suku bunga acuan lebih dari 100 basis poin sepanjang tahun ini, penurunan tersebut belum sepenuhnya tercermin pada suku bunga kredit.

“Dampak penurunan suku bunga secara menyeluruh, baik ke sektor riil maupun ke pasar keuangan, kemungkinan baru akan terasa lebih jelas pada paruh kedua tahun depan,” ujar Isfhan dalam sebuah konferensi pers virtual pada Kamis, 18 Desember 2025. Ia menambahkan, penyesuaian suku bunga kredit baru terjadi setelah perbankan menata struktur pendanaan dan risikonya.

Berbeda dengan sektor finansial, saham-saham yang sensitif terhadap suku bunga seperti properti dan konstruksi diprediksi belum akan langsung menguat pada awal 2026. Sektor properti masih akan menghadapi tantangan akibat daya beli masyarakat dan permintaan domestik yang diperkirakan belum pulih sepenuhnya, dengan pertumbuhan di bawah 5 persen atau sekitar 4,5 persen.

Selama suku bunga kredit masih relatif tinggi, pemulihan sektor properti dinilai akan berjalan lambat, khususnya di awal tahun. Minat beli properti memang terdorong oleh suku bunga rendah, namun kemampuan pembiayaan (leasing power) masyarakat saat ini masih lemah.

Dengan demikian, sektor properti dan saham-saham terkait suku bunga diperkirakan baru akan menunjukkan pergerakan signifikan pada paruh kedua 2026, seiring dengan penurunan suku bunga kredit dan perbaikan akses pembiayaan.

Isfhan juga mencatat adanya peluang rotasi sektoral yang menarik di tahun 2026. Meskipun komoditas mineral dan emas diproyeksikan tetap dalam tren bullish, tidak semua komoditas akan bernasib sama. Rotasi diperkirakan terjadi dari saham batu bara menuju sektor finansial.

Saham-saham perbankan besar, seperti BRI, BCA, dan BNI, bahkan dinilai sudah relatif murah setelah mengalami penurunan harga yang cukup dalam. Momentum rotasi ke sektor finansial ini sangat bergantung pada kinerja NIM perbankan di awal 2026.

Secara keseluruhan, Isfhan memandang 2026 sebagai tahun transisi bagi pasar saham Indonesia. Penurunan suku bunga tidak akan mendorong seluruh sektor secara bersamaan, melainkan membuka peluang rotasi bertahap. Sektor finansial diproyeksikan menjadi pemimpin awal penguatan IHSG, sebelum sektor-sektor sensitif suku bunga lainnya menyusul pada paruh kedua tahun.

Rekomendasi