Aceh Tamiang – Trauma mendalam membayangi para penyintas banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Seorang ahli psikologi klinis bahkan menilai, dampak psikologis bencana kali ini lebih berat dibandingkan tsunami Aceh 2004 silam.
Para pengungsi, seperti Ratnawati, mengaku mimpi buruk terus menghantui. “Masih mimpi dikejar air. Kalau nengok air itu, tidak sanggup,” ujarnya, berlinang air mata.
Kondisi di pengungsian yang serba terbatas memperburuk keadaan. Mereka harus berjuang melawan terik matahari, debu, gigitan nyamuk, dan emosi yang tak terkendali.
Psikolog klinis, Yulia Direzkia, menjelaskan bahwa lambannya pemenuhan kebutuhan dasar menjadi penyebab utama beratnya trauma. Bantuan yang datang terlambat membuat penyintas tidak mampu mengaktifkan mekanisme pemulihan alami.
“Harusnya kan di fase tanggap darurat seperti ini, kita sudah harus segera melakukan PFA (psychological first aid). Tapi sampai hari ini kita belum mampu, karena secara fisik saja belum terpenuhi kebutuhan masyarakat. Basic need-nya saja belum,” kata Yulia.
PFA (psychological first aid) adalah dukungan psikologis awal tanpa terapi atau diagnosis, bertujuan menenangkan, menguatkan, dan membantu korban merasa aman.
Sementara itu, Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya menegaskan, penanganan bencana telah dilakukan dengan skala nasional sejak awal. Pemerintah pusat telah mengerahkan lebih dari 50 ribu personel gabungan dan mengalokasikan dana untuk membangun kembali rumah dan fasilitas yang rusak.
Meski demikian, Seskab mengakui bahwa penanganan di lapangan belum sepenuhnya sempurna dan mengajak semua pihak untuk saling mendukung.
Banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh Tamiang pada akhir November lalu telah menyebabkan kerusakan parah. BNPB mencatat 85 orang meninggal, 10.720 unit rumah rusak, dan 200.000 warga mengungsi. Secara keseluruhan, 1.068 orang meninggal, 190 hilang, dan 147.236 rumah rusak di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Kebutuhan mendesak saat ini adalah layanan konseling psikologis dan program pemulihan trauma, terutama bagi anak-anak.
Yulia mendorong pemerintah untuk segera memetakan wilayah terdampak berdasarkan tingkat keparahan psikologis dan mengerahkan seluruh bentuk bantuan yang tersedia.





















