London – Lonjakan harga minyak mentah dunia kembali terjadi pada perdagangan Senin (20/4), dengan kenaikan mencapai sekitar 5 persen. Tren ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz pasca penyitaan kapal kargo Iran oleh Amerika Serikat yang mengancam stabilitas gencatan senjata di kawasan tersebut.
Harga minyak mentah Brent berjangka tercatat naik 4,8 persen menjadi 94,75 dolar AS per barel pada pukul 11.48 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melonjak 5,7 persen ke level 88,61 dolar AS per barel.
Kenaikan ini terjadi setelah sebelumnya harga minyak sempat anjlok 9 persen pada Jumat (17/4), menyusul pernyataan Iran yang mengklaim jalur Selat Hormuz telah dibuka kembali untuk kapal komersial.
Namun, situasi di lapangan berbalik drastis. Analis Sparta Commodities, June Goh, mengungkapkan bahwa hanya berselang 24 jam setelah pengumuman pembukaan jalur tersebut, terjadi penembakan terhadap kapal tanker oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Situasi semakin memanas setelah Amerika Serikat mengonfirmasi penyitaan kapal kargo Iran pada Minggu (19/4) dengan tuduhan pelanggaran blokade. Teheran merespons keras dengan ancaman pembalasan dan menyatakan akan membatalkan partisipasi dalam putaran negosiasi kedua yang dijadwalkan sebelum masa gencatan senjata berakhir.
Analis SEB Research, Bjarne Schieldrop, menyoroti ketimpangan antara pasar keuangan dan pasar fisik. Menurutnya, meski pasar keuangan masih berharap pada penyelesaian negosiasi, kondisi fisik pasar justru memburuk. Gangguan pasokan, durasi pelayaran yang lebih lama, serta melonjaknya biaya asuransi pengiriman membatasi distribusi minyak secara nyata.
Berdasarkan data pengiriman, lalu lintas kapal di Selat Hormuz kini praktis terhenti. Tercatat hanya tiga kapal yang melintas dalam 12 jam terakhir, jauh menurun dibandingkan Sabtu (18/4) yang sempat mencapai 20 kapal pengangkut minyak, gas, logam, dan pupuk.
Hingga saat ini, sekitar 10 hingga 11 juta barel minyak mentah per hari dilaporkan masih terhenti produksinya. Kondisi ini diperparah dengan kebijakan Tiongkok yang membatasi ekspor bahan bakar olahan, meski sejumlah negara seperti Malaysia dan Australia masih terus menerima pasokan.





















