Strategi Membeli Saham ICBP di Tengah Potensi Kenaikan Harga Bahan Baku

persen

Jakarta – PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dihadapkan pada tantangan kenaikan biaya bahan baku yang membayangi prospek kinerja perusahaan meski sempat mencatatkan hasil positif pada tahun 2025. Margin kotor perusahaan tercatat mengalami penurunan sebesar 180 basis poin secara tahunan menjadi 35,2% akibat lonjakan harga komoditas utama seperti minyak goreng dan kentang.

Analis Ciptadana Sekuritas Asia, Putu Chantika Putri, mengungkapkan bahwa tekanan biaya ini diprediksi akan berlanjut hingga awal 2026. Hal ini terjadi karena tingginya harga minyak dunia terus memicu kenaikan harga komoditas lainnya. Dengan porsi bahan baku gandum dan minyak goreng yang mencapai sekitar 30% dari total penjualan, margin ICBP menjadi lebih rentan terhadap volatilitas harga input.

Ruang bagi perusahaan untuk menaikkan harga jual rata-rata atau Average Selling Price (ASP) dinilai sangat terbatas dalam jangka pendek. Kondisi makro yang rapuh di pasar Afrika, ketegangan di Timur Tengah, serta daya beli konsumen domestik yang cenderung sensitif menjadi penghambat utama bagi perusahaan untuk mengalihkan beban biaya kepada konsumen.

Di sisi lain, manajemen ICBP menargetkan pertumbuhan penjualan di kisaran 5% hingga 7% dengan margin EBIT antara 20% hingga 22% pada tahun 2026. Fokus operasional di luar negeri melalui Pinehill tetap menunjukkan volume yang sehat, meskipun strategi perusahaan saat ini beralih pada produk dengan harga lebih terjangkau untuk menjaga penetrasi pasar di Afrika.

Terkait kinerja pasar domestik, permintaan terpantau stabil, bahkan terbantu oleh program makan bergizi gratis yang mendongkrak konsumsi produk susu. Namun, analis UBS Sekuritas Indonesia, Permada Darmono, memperingatkan bahwa gangguan logistik akibat ketegangan geopolitik tetap menjadi risiko tambahan yang perlu diwaspadai.

Selain tantangan biaya produksi, sentimen nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga menjadi perhatian khusus. Pada kuartal IV-2025, ICBP mencatatkan kerugian valuta asing sebesar Rp 278 miliar. Analis Indo Premier Sekuritas, Andrianto Saputra, menyebut bahwa potensi pemulihan margin sangat bergantung pada pelandaian harga minyak kelapa sawit (CPO) dan gandum ke depannya.

Secara finansial, ICBP diproyeksikan mampu mencetak pendapatan sebesar Rp 78,86 triliun dan laba bersih Rp 10,22 triliun pada tahun 2026, meningkat dibandingkan realisasi pendapatan tahun 2025 yang sebesar Rp 74,85 triliun dengan laba bersih Rp 9,22 triliun.

Menanggapi prospek saham tersebut, analis memberikan rekomendasi yang bervariasi. Andrianto dan Permada merekomendasikan beli dengan target harga masing-masing Rp 12.600 dan Rp 10.500 per saham. Sementara itu, Putu menyematkan peringkat hold dengan target harga di level Rp 8.100 per saham.

Rekomendasi