Purbaya: Indonesia Fokus Pacu Pertumbuhan Ekonomi yang Lebih Produktif

persen

Jakarta – Pemerintah Indonesia kini menggeser strategi pembangunan ekonomi nasional dari sekadar menjaga stabilitas menuju pertumbuhan yang lebih produktif, bernilai tambah, dan mampu menciptakan lapangan kerja berkualitas. Transformasi ini dilakukan dengan mengandalkan tiga pilar utama, yaitu investasi, industrialisasi, dan peningkatan produktivitas.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan, langkah tersebut ditempuh melalui penguatan sektor manufaktur, akselerasi industri hilir, serta optimalisasi kualitas sumber daya manusia. Fokus ini diharapkan membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan lebih terdiversifikasi, tangguh, dan berkelanjutan.

Dalam rangkaian agenda IMF-World Bank Spring Meeting di Washington, DC, Purbaya menegaskan bahwa ekonomi Indonesia tetap memiliki kinerja yang solid dibandingkan negara-negara G20 lainnya. Ketahanan ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang stabil, tingkat inflasi rendah, serta rasio utang dan defisit yang terjaga dengan baik.

Peran APBN dinilai krusial sebagai shock absorber untuk melindungi daya beli masyarakat. Pemerintah juga berkomitmen menjaga disiplin fiskal dengan memastikan defisit tetap berada di bawah batas 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Sinergi kebijakan fiskal dan moneter pun terus diperkuat, termasuk peran Danantara dalam menggalang investasi di luar APBN.

Optimisme pemerintah terhadap prospek ekonomi nasional tetap terjaga dengan target pertumbuhan di kisaran 5,4 hingga 6 persen pada 2026. Proyeksi ini berpijak pada fondasi ekonomi yang kuat, di mana Indonesia mampu tumbuh 5,11 persen pada 2025 di tengah perlambatan ekonomi global.

Selain itu, neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus selama 70 bulan berturut-turut, dengan capaian sebesar US$ 1,27 miliar pada Februari 2026. Stabilitas ini didukung oleh konsumsi rumah tangga yang tetap kuat serta keberlanjutan program hilirisasi.

Meski demikian, pemerintah tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap dinamika global, terutama ketegangan di Timur Tengah yang berisiko menekan harga energi. Sebagai langkah antisipasi, pemerintah telah menyiapkan bantalan fiskal untuk meredam guncangan harga dan menjamin ketersediaan bahan bakar bersubsidi bagi masyarakat.

Strategi jangka panjang juga akan terus dijalankan melalui efisiensi belanja negara dan percepatan transformasi struktural. Langkah ini dilakukan guna memastikan ekonomi Indonesia tetap resilien menghadapi ketidakpastian global yang masih berlangsung.

Rekomendasi