Jakarta – Uni Emirat Arab (UEA) resmi keluar dari keanggotaan Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak atau OPEC mulai 1 Mei. Langkah Abu Dhabi ini diambil sejalan dengan strategi jangka panjang sektor energi yang tengah mereka dorong.
Kantor berita pemerintah UEA, WAM, pada Selasa (28/4) melaporkan keputusan tersebut sejalan dengan visi strategis dan ekonomi jangka panjang UEA. Pemerintah setempat juga ingin mempercepat investasi di sektor produksi energi domestik.
OPEC sendiri merupakan organisasi negara-negara penghasil minyak yang dibentuk pada 1960 oleh Arab Saudi, Iran, Irak, Venezuela, dan Kuwait. UEA kemudian bergabung tujuh tahun setelah organisasi itu berdiri.
Selama ini, OPEC berperan mengoordinasikan kebijakan produksi para anggotanya untuk memengaruhi pasokan dan harga minyak dunia.
Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai kepergian UEA menjadi pukulan besar bagi OPEC. Menurut dia, Abu Dhabi bukan pemain kecil dalam industri minyak global.
UEA saat ini memproduksi sekitar 3,2 juta hingga 3,5 juta barel per hari. Negara itu juga memiliki kapasitas terpasang sekitar 4 juta barel per hari dan menargetkan produksi 5 juta barel per hari pada 2027.
“Jika UEA keluar, OPEC kehilangan salah satu anggota Teluk yang memiliki kapasitas produksi besar dan cadangan produksi penting,” ujar Syafruddin kepada CNNIndonesia.com, Rabu (29/4).
Syafruddin menjelaskan, pasar tidak hanya membaca kemungkinan tambahan atau pengurangan produksi akibat keluarnya UEA. Menurut dia, pasar juga menangkap sinyal politik, mulai dari disiplin OPEC yang dinilai mulai retak, kepemimpinan Arab Saudi yang menghadapi tantangan, hingga kecenderungan produsen besar mengutamakan kepentingan nasional masing-masing.
Dampaknya, kata Syafruddin, bisa terlihat lewat gejolak harga yang meningkat, perubahan ekspektasi pasar, hingga potensi persaingan produksi antarprodusen besar. Situasi ini makin sensitif karena perang Iran dan gangguan di Selat Hormuz membuat pasar energi global rapuh.
Jalur itu biasanya dilewati sekitar seperlima minyak mentah dan LNG dunia. “Setiap gangguan di sana langsung memengaruhi harga, pengiriman, dan psikologi pasar,” ujarnya.
Menurut Syafruddin, harga minyak berpeluang turun jika UEA memanfaatkan kebebasan barunya untuk menaikkan produksi dan merebut pangsa pasar global. Tambahan pasokan bisa menekan harga, terlebih Abu Dhabi sudah menyatakan akan membawa produksi tambahan ke pasar secara terukur, mengikuti permintaan dan kondisi pasar.
“Logikanya jelas. Ketika produsen besar keluar dari kuota OPEC, pasokan berpeluang naik, dan kenaikan pasokan dapat menekan harga,” ujarnya.
Meski begitu, ia menilai penurunan harga tidak otomatis terjadi dalam jangka pendek. Faktor geopolitik masih sangat kuat, terutama perang Iran dan gangguan di Selat Hormuz.
Bahkan, jika pasar menilai risiko pengiriman lebih besar daripada tambahan produksi UEA, harga minyak tetap berpotensi naik. Karena itu, arah harga minyak akan ditentukan oleh tarik-menarik antara tambahan pasokan dari UEA dan risiko geopolitik di kawasan Teluk.
Dalam jangka menengah, peluang harga minyak turun dinilai lebih besar jika jalur ekspor tetap aman, UEA benar-benar menaikkan output, dan Arab Saudi atau Rusia tidak merespons dengan langkah yang memicu ketegangan baru di pasar.
Merujuk laporan Reuters, Syafruddin juga menyebut Amerika Serikat bisa menjadi pemasok penyangga. Lonjakan ekspor minyak Washington tercatat mencapai sekitar 12,9 juta barel per hari dan dinilai mampu meredam tekanan harga.






















