Jakarta – PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mencatatkan lonjakan kinerja keuangan yang signifikan sepanjang kuartal I-2026. Pendapatan emiten milik Prajogo Pangestu ini melesat 286,40% secara tahunan (year on year) menjadi US$ 2,40 miliar, dibandingkan dengan US$ 622,09 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kontributor utama pertumbuhan ini berasal dari segmen energi yang menyumbang pendapatan sebesar US$ 1,45 miliar. Selain itu, perusahaan mencatat pendapatan dari segmen kimia sebesar US$ 1,09 miliar dan segmen infrastruktur senilai US$ 87,50 juta, setelah dikurangi eliminasi sebesar US$ 225,05 juta.
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menjelaskan bahwa lonjakan pendapatan tersebut didorong oleh konsolidasi bisnis energi melalui Aster pascaakuisisi yang dirampungkan pada pertengahan 2025.
“Ini bukan pertumbuhan organik murni, melainkan dampak dari tambahan arus pendapatan baru,” kata Wafi, Rabu (6/5/2026).
Wafi memproyeksikan pertumbuhan kinerja TPIA ke depan akan cenderung moderat. Sejumlah faktor pendukung kinerja perusahaan di masa mendatang meliputi kontribusi penuh dari bisnis energi, pemulihan permintaan produk petrokimia domestik, stabilisasi margin, serta optimalisasi utilisasi pabrik pascapencabutan status force majeure.
Pencabutan status force majeure dilakukan setelah perusahaan berhasil mengamankan bahan baku alternatif dari pasar internasional, termasuk dari Singapura dan Amerika Serikat.
Di sisi lain, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai TPIA memiliki modal kuat untuk menjaga tren positif berkat diversifikasi bisnis yang terintegrasi. Menurutnya, keterlibatan di sektor petrokimia, energi, hingga infrastruktur dan logistik maritim membuat perusahaan lebih tangguh menghadapi volatilitas global.
“Diversifikasi ini membuat kinerja TPIA lebih tahan banting,” ujar Nafan.
Namun, Nafan mengingatkan perusahaan untuk tetap memperkuat efisiensi operasional guna memitigasi risiko fluktuasi harga komoditas bahan baku. Selain itu, strategi lindung nilai atau hedging dinilai krusial mengingat TPIA masih bergantung pada impor bahan baku yang menggunakan mata uang asing.
“Kenaikan pendapatan TPIA yang berdenominasi dolar AS diharapkan dapat menciptakan natural hedging,” tambahnya.
Terkait prospek saham, Wafi memberikan rekomendasi beli untuk TPIA dengan target harga di level Rp 9.500 per saham.




















