Wall Street Lesu Usai Iran Tolak Ekspor Uranium ke Luar Negeri

persen

New York – Bursa saham Amerika Serikat, Wall Street, tertekan pada perdagangan Kamis (21/5/2026) setelah lonjakan harga minyak mentah memicu kekhawatiran baru terkait konflik di Timur Tengah.

Indeks Dow Jones tercatat turun 24,51 poin atau 0,05% ke posisi 49.987,34. Sementara itu, indeks S&P 500 melemah 0,30% menjadi 7.410,68 dan Nasdaq Composite terkoreksi 0,46% ke level 26.150,69.

Sentimen pasar memburuk setelah munculnya laporan mengenai perintah Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, yang melarang pengiriman stok uranium ke luar negeri. Kebijakan ini dianggap mempersulit upaya damai antara Donald Trump dan Teheran, sehingga memicu lonjakan harga minyak Brent sebesar 2,2% menjadi US$ 107,32 per barel.

Kenaikan harga energi ini kembali memicu ketakutan investor akan gangguan pasokan di Selat Hormuz. Dampak lanjutannya, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke level 4,609%, yang kemudian menekan pasar saham karena kekhawatiran terhadap inflasi.

Sektor consumer staples memimpin pelemahan dalam indeks S&P 500 dengan penurunan 2,3%. Saham Walmart jatuh 7,5% setelah perusahaan memberikan proyeksi laba kuartal kedua yang berada di bawah ekspektasi pasar, mencerminkan kekhawatiran dampak inflasi terhadap daya beli masyarakat.

Di sisi lain, saham NVIDIA turun 0,6% di tengah ketatnya persaingan sektor kecerdasan buatan (AI). Namun, pasar merespons positif pengumuman pemerintah mengenai pendanaan komputasi kuantum. Saham IBM naik 5,6%, diikuti lonjakan signifikan pada perusahaan sektor quantum computing lainnya seperti Infleqtion yang melesat 39,8% dan D-Wave Quantum sebesar 24,8%.

Sementara itu, saham Intuit anjlok 20,5% setelah perusahaan memangkas proyeksi pendapatan dan mengumumkan kebijakan pemutusan hubungan kerja terhadap 17% karyawannya.

Meski pasar saham tertekan, data ekonomi AS menunjukkan sinyal ketahanan. Klaim tunjangan pengangguran baru dilaporkan menurun, sementara aktivitas manufaktur mencapai level tertinggi dalam empat tahun terakhir. Kondisi ini dipicu oleh aksi pelaku usaha yang meningkatkan persediaan barang untuk mengantisipasi potensi kelangkaan pasokan akibat konflik yang kian memanas.

Rekomendasi