Jakarta – Sejumlah emiten sektor emas di Indonesia mencatatkan performa bisnis yang bervariasi sepanjang kuartal I-2026. Dinamika harga emas global, tingkat permintaan dari bank sentral dunia, serta arah kebijakan suku bunga The Fed menjadi faktor utama yang memengaruhi prospek kinerja perusahaan-perusahaan di sektor ini ke depan. Bagi emiten dengan volume ekspor yang tinggi, fluktuasi pasar global saat ini menjadi peluang untuk mendongkrak keuntungan.
Berikut adalah analisis dan rekomendasi saham bagi beberapa emiten pemilik tambang emas:
1. PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA)
Manajemen MDKA fokus menggenjot produksi produk sampingan perak di kisaran 800–900 kilo ounce (koz) untuk menekan biaya tunai tambang Tujuh Bukit. Selain itu, segmen nikel melalui MBMA diproyeksikan tumbuh pesat. Volume penjualan nikel diprediksi mencapai 80 kiloton pada 2026, didukung oleh peningkatan harga jual rata-rata dan produksi high-grade nickel matte sebesar 37,5 kiloton. Segmen bijih limonit juga diantisipasi meningkat signifikan hingga 21–22 juta wet metric ton seiring bertambahnya kapasitas proyek MHP.
Rekomendasi: Buy
Target harga: Rp 4.000
2. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS)
BRMS menunjukkan pertumbuhan kinerja keuangan yang solid pada kuartal I-2026, dengan laba bersih melonjak 21 persen secara tahunan menjadi US$ 18 juta. Saat ini, perusahaan tengah melakukan ekspansi pabrik carbon-in-leach (CIL) dari kapasitas 500 ton per hari menjadi 2.000 ton per hari yang ditargetkan rampung pada Oktober 2026. Langkah strategis ini diharapkan mampu mendongkrak produksi emas hingga 79.000 ons tahun ini, sementara proyek tambang bawah tanah baru yang dijadwalkan beroperasi pada 2027 akan semakin memperkuat prospek jangka menengah perusahaan.
Rekomendasi: Netral
Target harga: Rp 1.200
3. PT United Tractors Tbk (UNTR)
Segmen emas UNTR mengalami tekanan pada kuartal I-2026 dengan penurunan pendapatan sebesar 76 persen menjadi Rp 692 miliar. Penurunan ini dipicu oleh nihilnya penjualan dari tambang Martabe selama periode tersebut. Meski produksi di tambang Martabe dijadwalkan kembali berjalan pada Juni 2026 dengan target 60.000 ons, perusahaan menghadapi tantangan teknis pada fasilitas penyimpanan tailing kering (TSF). Proyek TSF sempat tertunda akibat kendala cuaca ekstrem pada akhir 2025, yang membuat estimasi produksi tahun 2027 diperkirakan hanya mencapai 70.000 ons, lebih rendah dari kapasitas penuh yang diharapkan.
Rekomendasi: Overweight
Target harga: Rp 42.000

























