Primaya Hospital (PRAY) catat pendapatan tumbuh 25% kuartal I-2026, ini pendorongnya

persen

Jakarta – PT Famon Awal Bros Sedaya Tbk (PRAY) atau Primaya Hospital Group mencatatkan kinerja positif dengan pertumbuhan pendapatan sebesar 25,1 persen pada kuartal I-2026. Perseroan berhasil membukukan pendapatan senilai Rp 686,68 miliar, meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 548,83 miliar.

Direktur Utama PRAY Leona A. Karnali menjelaskan bahwa kenaikan pendapatan ini ditopang oleh operasional rumah sakit baru serta penguatan performa rumah sakit yang sudah ada. Pertumbuhan juga disumbang oleh unit bisnis non-rumah sakit, seperti Westerindo dan Smart Fertility Clinic.

Meskipun pendapatan melonjak, laba bersih perseroan pada kuartal I-2026 tercatat turun 48,6 persen secara tahunan menjadi Rp 21,35 miliar. Di sisi lain, manajemen mencatat pertumbuhan EBITDA sebesar 22 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.

Sebagai bagian dari strategi pengembangan, Primaya Hospital mulai menerapkan teknologi medis terkini, seperti rehabilitasi robotik Cyberdyne HAL untuk pasien cedera. Selain itu, tersedia layanan Hyperthermic Intraperitoneal Chemotherapy (HIPEC) yang dikhususkan untuk penanganan kanker rongga perut.

Perseroan terus melanjutkan ekspansi jaringan melalui pembangunan gedung baru, yakni Primaya Hospital PGI Cikini dan Primaya Hospital BSD. Langkah ini diambil untuk memperkuat kapasitas layanan dan menghadirkan inovasi medis yang lebih luas bagi masyarakat.

Pada tahun 2026, PRAY menargetkan pertumbuhan pendapatan pada kisaran 15 hingga 20 persen serta peningkatan EBITDA sebesar 20 sampai 25 persen. Target tersebut akan dikejar melalui ekspansi fisik, transformasi digital, dan penguatan layanan unggulan yang terintegrasi.

Sebagai informasi, sepanjang tahun 2025 lalu, perseroan mencatatkan pendapatan sebesar Rp 2,43 triliun dengan laba bersih mencapai Rp 211,4 miliar. Leona menegaskan komitmennya untuk terus membangun ekosistem layanan kesehatan yang inovatif dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia.

Rekomendasi