Jakarta – Kepercayaan investor global terhadap Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara kini menunjukkan tren positif. Lembaga tersebut berhasil mengantongi komitmen pendanaan jumbo dari berbagai sovereign wealth fund dunia dengan nilai mencapai hampir US$30 miliar.
Chief Investment Officer (CIO) BPI Danantara, Pandu Sjahrir, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan tujuh hingga delapan sovereign wealth fund internasional. Sebagian dari komitmen tersebut bahkan sudah mulai direalisasikan.
“Contoh lagi ada 7-8 sovereign fund melakukan MoU dengan kita hampir US$30 billion. Dan itu sudah mulai kita convert tahun ini, contohnya dengan Qatar, kita sudah close 2 deal dengan Qatar Investment Authority,” ujar Pandu dalam acara Investor Daily Round Table di Jakarta, Selasa (26/5).
Menurut Pandu, capaian ini menjadi bukti bahwa skeptisisme pasar terhadap Danantara di awal pembentukannya telah sirna. Kini, investor global justru memandang Danantara sebagai mitra strategis yang mampu memberikan kepastian dan kepercayaan dalam berinvestasi di Indonesia.
“Saat awal Danantara dibentuk skepticism was at very high, sangat tinggi. Tapi over time sekarang malah orang merasa Danantara sebagai suatu organisasi yang bisa membantu membawa confidence,” tambahnya.
Di sisi lain, Danantara menargetkan realisasi investasi sebesar US$12 miliar atau sekitar Rp213,4 triliun sepanjang tahun ini. Pandu menjelaskan, angka tersebut mengalami penyesuaian dari target awal sebesar US$14 miliar akibat fluktuasi nilai tukar rupiah.
“Kalau dari sisi total investment yang kami sudah sebut secara publik di awal tahun itu kurang lebih, tapi ini karena kurs menurun agak berubah ya, awal tahun US$14 billion mungkin sekarang US$12 billion,” jelasnya.
Investasi tersebut akan difokuskan pada sektor-sektor strategis, seperti infrastruktur digital, pusat data (data center), energi baru terbarukan, hingga proyek waste to energy (WTE). Pandu menegaskan bahwa pihaknya terus membuka ruang lebar bagi sektor swasta untuk terlibat.
Sebagai bukti tingginya minat swasta, proyek waste to energy fase kedua di 10 lokasi kini menarik perhatian 85 konsorsium. Angka ini melonjak drastis dibandingkan fase pertama yang hanya diikuti oleh 24 perusahaan.
“All of it private sector. Tidak hanya dari Indonesia, tidak juga hanya dari China. Ada dari Korea, Jepang, Eropa, Middle East, Singapura,” pungkasnya.
Ke depan, Danantara berkomitmen untuk terus menjaga tata kelola dan transparansi. Langkah ini diambil guna memastikan arus investasi ke Indonesia tetap terjaga dan terus meningkat.





















