Jakarta – Pasar obligasi korporasi diprediksi akan menghadapi penyesuaian imbal hasil (yield) yang lebih signifikan pada semester kedua tahun 2026. Tren ini menyusul kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN) yang mulai memberikan tekanan pada biaya pendanaan perusahaan.
Para analis menilai respons obligasi korporasi terhadap fluktuasi suku bunga cenderung tertinggal atau lagging dibandingkan obligasi pemerintah. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh rendahnya frekuensi transaksi, proses penerbitan yang kurang fleksibel, serta dominasi investor dengan strategi buy and hold.
Analis Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, Doni Kuswantoro, menjelaskan bahwa penyesuaian yield di pasar korporasi tidak terjadi seketika. Namun, dengan yield SBN tenor 10 tahun yang naik ke level 6,7 persen dari posisi awal tahun di kisaran 6 persen, yield obligasi korporasi diperkirakan akan segera mengikuti arah pergerakan tersebut.
Hingga April 2026, data Pefindo mencatat penerbitan obligasi korporasi sebenarnya masih tumbuh kuat sebesar 20,56 persen secara tahunan menjadi Rp 67,05 triliun. Pertumbuhan ini didorong oleh kondisi pasar pada awal tahun yang masih menawarkan yield relatif rendah bagi emiten.
Sebagai gambaran, yield obligasi korporasi tenor tiga tahun dengan rating AAA berada di level 5,8 persen pada kuartal I-2026. Meski angka ini mulai merangkak naik dibandingkan kuartal sebelumnya, posisinya masih lebih rendah jika dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025.
Kendati demikian, kenaikan BI Rate ke level 5,25 persen dan penguatan yield SBN berpotensi memicu sikap wait and see dari para emiten. Perusahaan kini mulai mempertimbangkan matang-matang biaya bunga sebelum memutuskan untuk merilis surat utang baru di tengah kondisi pasar yang dinamis.
Meski ada tantangan kenaikan biaya dana, kebutuhan pendanaan ulang atau refinancing tetap akan menjadi penopang utama pasar. Pefindo mencatat terdapat obligasi korporasi senilai Rp 124 triliun yang akan jatuh tempo pada periode Mei hingga Desember 2026.
Chief Economist Pefindo, Suhindarto, memproyeksikan volume penerbitan pada semester II-2026 tetap berpotensi tumbuh, namun kemungkinan tidak akan sepadat tahun lalu. Emiten diperkirakan mulai memperhitungkan kenaikan kupon yang harus dibayarkan akibat transmisi suku bunga yang mulai bekerja.
Menurutnya, jika pembentukan kupon meningkat terlalu tajam akibat lonjakan yield, aktivitas penerbitan surat utang korporasi di sisa tahun ini bisa melambat dari perkiraan awal. Strategi diversifikasi pendanaan kini menjadi faktor kunci bagi emiten dalam menghadapi situasi pasar tersebut.





















