New York – Pasar saham Amerika Serikat bersiap menghadapi pekan krusial seiring dengan antisipasi investor terhadap data ketenagakerjaan dan laporan keuangan perusahaan semikonduktor, Broadcom. Fokus pelaku pasar saat ini terbagi antara optimisme reli saham teknologi dan kekhawatiran mengenai inflasi serta potensi kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Indeks S&P 500 mencatatkan kenaikan beruntun selama sembilan pekan terakhir dengan pertumbuhan di atas 10 persen sepanjang tahun ini, sementara Nasdaq Composite tumbuh 16 persen. Kebangkitan ini didorong oleh sektor teknologi yang pulih pasca terkoreksi pada Maret lalu, dipicu oleh prospek keuntungan dari tren kecerdasan buatan (AI).
Laporan pekerjaan bulanan yang akan dirilis pada 5 Juni mendatang menjadi perhatian utama. Investor memantau apakah data tersebut akan menunjukkan ekonomi yang terlalu panas, yang berisiko memicu kenaikan suku bunga lebih lanjut. Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) yang meningkat 3,8 persen hingga April memperkuat urgensi pengawasan terhadap kebijakan moneter.
Liz Ann Sonders, kepala strategi investasi di Schwab Center for Financial Research, menilai bahwa data ketenagakerjaan yang kuat di tengah inflasi yang masih tinggi akan mengubah prospek kebijakan Fed. Sebaliknya, laporan yang lebih lemah justru berpotensi meredakan kekhawatiran pasar terkait pengetatan moneter.
Prediksi pasar menunjukkan tingkat pengangguran berada di angka 4,3 persen dengan penambahan 85.000 lapangan kerja. Namun, ahli strategi investasi global di Edward Jones, Angelo Kourkafas, memperingatkan bahwa penambahan di atas 150.000 pekerjaan dapat menimbulkan kekhawatiran ekonomi yang terlalu panas dan mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS semakin tinggi.
Di sisi lain, hasil kuartalan Broadcom pada hari Rabu mendatang menjadi ujian penting bagi sektor semikonduktor. Indeks Semikonduktor Philadelphia SE telah melonjak sekitar 80 persen sejak akhir Maret, didorong oleh optimisme infrastruktur AI.
Selain data ekonomi, stabilitas pasar juga bergantung pada perkembangan geopolitik, terutama perang Iran yang telah berlangsung selama tiga bulan. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang berada di level 4,45 persen tetap menjadi perhatian, karena kenaikan lebih lanjut dapat meningkatkan biaya pinjaman bagi konsumen dan dunia usaha, sekaligus menekan daya tarik saham.



















