Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menepis anggapan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah dipicu oleh kebijakan fiskal pemerintah yang tidak terarah. Ia menegaskan bahwa kondisi fiskal Indonesia saat ini justru berada dalam posisi yang aman dan terkendali.
Purbaya menjelaskan bahwa rumor mengenai kebijakan fiskal yang “ugal-ugalan” tidak memiliki dasar yang kuat. Menurutnya, reformasi perpajakan yang telah dijalankan pemerintah terbukti berhasil meningkatkan pendapatan negara secara signifikan.
“Reformasi di perpajakan sudah menghasilkan peningkatan pendapatan perpajakan yang amat signifikan, sehingga anggaran kita amat aman,” tegas Purbaya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (3/6).
Terkait fluktuasi nilai tukar rupiah yang mendekati level Rp18 ribu per dolar AS, Purbaya menyatakan bahwa hal tersebut merupakan ranah otoritas Bank Indonesia (BI). Ia menekankan bahwa pemerintah menyerahkan sepenuhnya kebijakan moneter kepada bank sentral sebagai pihak yang paling berkompeten.
Selain itu, Purbaya juga membantah isu yang menyebutkan bahwa pemerintah telah menginstruksikan perbankan untuk melakukan stress test dengan asumsi kurs di atas Rp18 ribu. Ia menilai rumor semacam itu sengaja disebarkan untuk menciptakan sentimen negatif di pasar.
“Ada yang bilang saya suruh perbankan melakukan stress test kalau rupiahnya Rp18 ribu lebih. Padahal saya enggak pernah isu seperti itu. Jadi banyak isu-isu di pasar yang membuat sentimen ke rupiah negatif,” ungkapnya.
Ke depan, Purbaya memilih untuk tetap fokus memperkuat fondasi ekonomi nasional. Ia meyakini bahwa pergerakan nilai tukar pada akhirnya akan kembali ke titik keseimbangan yang ditentukan oleh fundamental ekonomi suatu negara.
Sebagai informasi, pada perdagangan Rabu (3/6) sore, nilai tukar rupiah ditutup melemah 128 poin atau 0,71 persen ke level Rp17.966 per dolar AS.





















