Jakarta – Tekanan terhadap mata uang global kian menguat hingga menyeret nilai tukar rupiah menembus level psikologis Rp18.009 per dolar AS pada perdagangan Senin (6/7) siang.
Posisi tersebut mencerminkan pelemahan sebesar 46 poin atau 0,26 persen pada pukul 14.12 WIB.
Tren negatif ini tidak hanya dialami rupiah, melainkan juga melanda berbagai mata uang di kawasan Asia.
Yen Jepang tercatat melemah 0,59 persen, disusul won Korea sebesar 0,23 persen, dan yuan China yang terkoreksi 0,18 persen.
Mata uang lain seperti dolar Singapura dan bath Thailand juga kompak berada di zona merah dengan pelemahan masing-masing 0,14 persen dan 0,44 persen.
Kondisi serupa turut menimpa mata uang negara maju, termasuk euro yang melemah 0,17 persen dan franc Swiss sebesar 0,29 persen.
Poundsterling Inggris, dolar Australia, serta dolar Kanada pun tak luput dari tekanan dengan pelemahan di kisaran 0,12 hingga 0,16 persen.
Sebelumnya, rupiah sudah menunjukkan tren pelemahan sejak pembukaan pasar pagi tadi di level Rp17.993 per dolar AS.
Analis mata uang dari DOO Financial Futures, Lukman Leong, menilai bahwa penguatan dolar AS yang kembali terjadi menjadi pemicu utama tekanan pada mata uang Garuda.
Ia menjelaskan bahwa indeks dolar AS sedang mengalami rebound akibat antisipasi pasar terhadap rilis data ISM Services Amerika Serikat.
“Rupiah diperkirakan berpotensi berbalik melemah oleh dolar AS yang rebound,” ungkap Lukman.
Menurutnya, data ekonomi Amerika Serikat tersebut secara historis cenderung kuat sehingga memicu ekspektasi pasar yang menekan mata uang lain.



















