Jakarta – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) resmi menanamkan modal sebesar US$ 1 miliar atau setara dengan Rp 17,76 triliun ke dalam instrumen kredit swasta global.
Langkah strategis ini dilakukan melalui kemitraan dengan manajer aset asal Swiss, Partners Group.
Alokasi dana tersebut menjadi salah satu penempatan investasi terbesar yang pernah dilakukan Danantara dalam upaya memperluas jangkauan portofolionya di pasar swasta internasional.
Berdasarkan laporan Bloomberg, sebanyak US$ 600 juta atau sekitar Rp 10,65 triliun dari total dana tersebut difokuskan pada skema pinjaman langsung atau direct lending.
Sisa dana sebesar US$ 400 juta atau sekitar Rp 7,10 triliun dialokasikan ke dalam tranche diskresioner yang akan dikelola bersama melalui skema investasi bersama atau co-investment.
Pihak Danantara telah mengonfirmasi adanya investasi tersebut namun enggan memberikan rincian lebih lanjut mengenai jumlah nominal yang disepakati.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, menjelaskan bahwa langkah ini bukan sekadar mengejar profitabilitas semata.
“Investasi di Partners Group akan ditujukan untuk peluang pinjaman langsung di seluruh Asia, terutama Indonesia,” ujar Pandu dikutip dari Bloomberg, Sabtu (29/8/2026).
Pandu menekankan bahwa mandat investasi ini memiliki target utama berupa transfer pengetahuan untuk memperkuat kapasitas sektor investasi di dalam negeri.
Dia menambahkan bahwa modal yang ditempatkan di pasar global pada akhirnya akan memberikan dampak positif bagi ekonomi nasional.
Ekspansi ini merupakan bagian dari mandat luas Danantara dalam mengelola dana negara, baik di sektor domestik maupun pasar internasional.
Untuk memperkuat strategi ini, Danantara sebelumnya telah merekrut tenaga ahli investasi berpengalaman dari GIC Singapura guna memimpin divisi pasar swasta global.
Hingga saat ini, Danantara sebagai sovereign wealth fund Indonesia mengelola ratusan badan usaha milik negara dengan total nilai aset mencapai US$ 900 miliar.
Pada Juni 2026, lembaga tersebut telah berhasil menghimpun dana sebesar US$ 1,5 miliar melalui penerbitan obligasi internasional perdana.
Sebelumnya, pada awal Agustus, Danantara juga menyepakati investasi senilai US$ 2,5 miliar pada perusahaan patungan yang mengelola operasi JBS NV di Australia dan Selandia Baru.
Langkah Danantara ini mengikuti tren global di mana banyak dana kekayaan negara mulai mengalihkan fokus ke pasar kredit swasta yang kini bernilai US$ 1,8 triliun.
Di sisi lain, Partners Group yang mengelola aset lebih dari US$ 186 miliar menyatakan bahwa mandat tersebut akan menyasar peluang pinjaman senior dan junior di kawasan Asia Pasifik.
Struktur investasi ini dirancang dalam bentuk evergreen tanpa batas waktu guna mendukung diversifikasi portofolio klien di luar pasar Amerika Serikat.
Meskipun Partners Group sempat mengalami peningkatan penarikan dana dari klien pada awal tahun, mereka tetap agresif dalam mencari peluang investasi baru di Asia.
Keputusan Danantara ini menempatkan Indonesia sejajar dengan lembaga investasi global lainnya seperti Temasek Holdings dan Mubadala Investment Co yang telah lebih dulu terjun ke pasar kredit swasta.



















