Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan bergerak bervariasi cenderung melemah pada pekan pertama September 2025. Prediksi ini muncul di tengah jaminan operasional Bursa Efek Indonesia (BEI) yang akan tetap berjalan normal, meskipun unjuk rasa masif terjadi belakangan ini. Kekhawatiran investor asing atas ketidakstabilan politik dan tekanan pada nilai tukar rupiah menjadi sentimen negatif utama yang membayangi pergerakan pasar.
Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, menegaskan bahwa operasional perdagangan BEI pada Senin, 1 September 2025, tidak terpengaruh oleh situasi unjuk rasa tersebut. BEI berkomitmen kuat untuk menjaga aktivitas pasar modal Indonesia tetap bergerak sebagaimana mestinya, yaitu secara teratur, wajar, dan efisien.
VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi, membeberkan analisis yang memprediksi IHSG akan berada dalam rentang level support 7.745 (atau MA20) dan resistance 7.920.
Oktavianus menjelaskan, situasi politik dalam negeri menjadi salah satu pemicu sentimen negatif. Eskalasi ketidakstabilan politik meningkatkan kekhawatiran investor asing, yang tercermin dari aliran modal keluar (capital outflow) sebesar Rp 1,1 triliun pada 29 Agustus di seluruh perdagangan.
Selain itu, perdagangan pada 1 September 2025 juga dipengaruhi oleh tekanan terhadap rupiah. Mata uang Indonesia saat ini bergerak di atas level Rp 16.400 per dolar AS.
Kendati demikian, Oktavianus menilai indeks saham sektor barang baku diprediksi akan bergerak positif. Pandangan ini sejalan dengan harga emas dunia yang mencatat level tertinggi dalam sebulan terakhir, mencapai US$ 3.400 per troy ounce. Sektor pertahanan (defensive sector) juga diprediksi memiliki ruang positif.
Pada perdagangan sepekan terakhir, IHSG tercatat ditutup melemah 0,36 persen, di tengah demonstrasi di berbagai kota. IHSG parkir di level 7.830,4 pada penutupan perdagangan Jumat, 29 Agustus 2025, dari 7.858,8 pada pekan sebelumnya.
Menariknya, pada periode tersebut, rata-rata nilai transaksi harian meningkat 40 persen menjadi Rp 25,22 triliun, dari Rp 17,92 triliun pada pekan sebelumnya. Rata-rata volume transaksi harian Bursa juga naik 19,56 persen menjadi 47,19 miliar lembar saham dari 39,47 miliar lembar saham.
Frekuensi transaksi harian rata-rata selama pekan itu turut mengalami peningkatan sebesar 8,80 persen. Angka ini mencapai 2,31 juta kali transaksi, naik dari 2,12 juta kali transaksi pada pekan lalu. Peningkatan ini disampaikan oleh Pelaksana Harian Sekretaris Perusahaan BEI, Aulia Noviana Utami Putri.




















