Jakarta – Kinerja emiten pertambangan emas di Indonesia sepanjang kuartal I-2026 terpantau bervariasi. Sejumlah faktor eksternal dan domestik, mulai dari volatilitas harga komoditas hingga kebijakan pemerintah, kini menjadi penentu utama arah sektor tersebut ke depan.
Research Analyst Bumiputera Sekuritas, Muhammad Thoriq Fadilla, menyoroti empat tantangan utama bagi emiten emas. Pertama, volatilitas harga emas global yang masih dipengaruhi oleh penguatan dolar AS, kenaikan yield obligasi AS, serta ekspektasi tertahannya kebijakan pemangkasan suku bunga The Fed.
Kedua, risiko operasional dan produksi. Thoriq menilai kenaikan harga emas global tidak menjamin peningkatan laba jika volume produksi terganggu, kadar bijih menurun, atau terjadi lonjakan biaya bahan bakar dan kontraktor. Sebagai contoh, PT Bumi Resources Minerals (BRMS) mengalami penurunan volume penjualan lebih dari 30% secara tahunan meskipun harga jual emas melonjak.
Tantangan ketiga datang dari kebijakan domestik, terutama terkait kontrol ekspor dan kewajiban penempatan devisa hasil ekspor di bank BUMN mulai 1 Juni 2026. Kebijakan ini berpotensi menambah ketidakpastian administrasi dan fleksibilitas arus kas bagi perusahaan. Terakhir, faktor valuasi saham yang sudah tinggi membuat emiten lebih sensitif terhadap koreksi pasar.
Meski demikian, sektor emas masih memiliki sentimen positif. World Gold Council mencatat adanya peningkatan permintaan emas oleh bank sentral sebesar 17% secara kuartalan. Selain itu, minat investor terhadap instrumen fisik, seperti emas batangan dan koin, turut melonjak 42% pada kuartal pertama tahun ini.
Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Adrian Djie, memprediksi kinerja emiten sektor ini akan tetap solid hingga akhir semester I-2026. Hal ini didorong oleh posisi harga emas yang bertahan tinggi karena fungsi emas sebagai aset pelindung nilai (safe haven) di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menambahkan bahwa margin keuntungan emiten saat ini berada di level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Terkait strategi investasi, para analis memberikan sejumlah rekomendasi. Thoriq merekomendasikan buy saham ANTM dengan target harga Rp 3.300 dan BRMS dengan target harga Rp 700. Wafi juga memberikan rekomendasi buy untuk ANTM dengan target harga Rp 4.250, BRMS di level Rp 820, serta ARCI di harga Rp 1.550, sementara untuk MDKA disarankan untuk wait and see. Adrian turut menempatkan ANTM sebagai saham yang menarik dengan potensi target harga jangka pendek di area Rp 3.280 per saham.

























