LONDON – Aksi ambil untung warnai penutup tahun 2025 di pasar logam mulia, setelah harga emas, perak, dan platinum mencetak rekor kenaikan signifikan sepanjang tahun. Investor terpantau melakukan realisasi keuntungan (profit taking) usai menikmati performa gemilang.
Harga perak di London anjlok hampir 6%, setelah sebelumnya melonjak sekitar 150% selama 2025. Emas, yang mencatatkan kinerja terbaik sejak krisis minyak 1979, turun sekitar 1%. Sementara platinum, terkoreksi 8% dari rekor kenaikan sebelumnya sebesar 120%.
Meski demikian, performa pasar saham Eropa relatif stabil, dan bertahan di dekat level tertinggi sepanjang masa. Sektor perbankan dan senjata bahkan melampaui kinerja “Mag 7”, tujuh perusahaan raksasa AS yang menjadi tolok ukur pasar global.
Indeks MSCI global juga terpantau datar setelah mencatat reli senilai 15 triliun dolar AS sepanjang tahun. Investor kini mencermati notulen rapat Federal Reserve (The Fed) Desember yang menyoroti perbedaan pendapat terkait suku bunga AS.
Secara keseluruhan, indeks ini diproyeksikan naik sekitar 21% sepanjang tahun, kenaikan terbesar sejak 2019. Kenaikan ini didorong oleh saham produsen chip dan booming saham terkait kecerdasan buatan (AI).
“Meski ada beberapa kejutan kecil, tahun ini luar biasa untuk hasil investasi,” kata Kyle Rodda, analis senior di Capital.com. “Keuntungannya memang terpusat pada beberapa sektor, tapi kombinasi booming AI dan kebijakan moneter serta fiskal yang longgar mendorong aset berisiko ke level tertinggi.”
Di pasar valuta, dolar AS menguat tipis menjelang akhir tahun. Namun, secara keseluruhan mata uang Paman Sam ini mengalami penurunan 9,4% sepanjang 2025, penurunan terbesar sejak 2017. Kondisi ini menguntungkan euro dan sebagian besar mata uang lain, kecuali yen.
Fokus investor tahun depan tertuju pada langkah The Fed terkait suku bunga. Notulen rapat Desember mengungkap dukungan mayoritas peserta rapat untuk pemotongan suku bunga, dengan beberapa pihak menilai kebijakan ini penting untuk menstabilkan pasar tenaga kerja setelah perlambatan penciptaan lapangan kerja baru.
Di pasar obligasi, sebagian besar pasar obligasi zona euro tutup pada Rabu. Obligasi pemerintah Inggris (gilts) 10 tahun berada di level 4,5%, sementara obligasi AS (Treasuries) sedikit di bawah 4,12%, turun 45 basis poin sepanjang tahun.
Sementara itu, harga minyak Brent bergerak di kisaran 61 dolar AS per barel, menutup tahun dengan penurunan lebih dari 17%. Ini menjadi tahun ketiga berturut-turut harga minyak turun, terdorong oleh pasokan berlebih, tarif perdagangan, dan spekulasi terkait sanksi AS terhadap produsen seperti Rusia dan Venezuela.
Dengan catatan tersebut, investor menutup tahun 2025 dengan portofolio yang beragam: logam mulia untuk keuntungan spektakuler, saham teknologi untuk rally AI, dan minyak yang tetap menjadi tantangan global.




















