Emas Redup, Investor Bidik Aset Lain di 2026?

persen

Jakarta – Aset emas mencuri perhatian investor sepanjang tahun 2025 dengan mencatatkan imbal hasil (return) tertinggi, mencapai 54,72% year-to-date (YtD). Kinerja gemilang logam mulia ini kontras dengan aset kripto yang justru tertekan.

Data Bloomberg menunjukkan harga emas spot melonjak 3,09% secara bulanan (month on month/MoM) pada Desember 2025. Emas Antam juga mencatatkan kinerja solid dengan return 4,95% MoM dan 54,38% YtD.

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan perbaikan dengan return 1,62% MoM dan tumbuh 21,63% sepanjang tahun 2025. Obligasi pemerintah dan korporasi juga mencatatkan kenaikan, masing-masing sebesar 11,44% dan 10,82% YtD.

Aset kripto, di sisi lain, mengalami penurunan. Bitcoin (BTC) turun 15,82% YtD, sedangkan Ethereum (ETH) terkoreksi 12,78% YtD.

CEO dan Founder Finansialku, Melvin Mumpuni, menilai bahwa kenaikan signifikan harga emas masih menjanjikan peluang positif hingga tahun 2026. Namun, ia memperkirakan peran emas akan lebih sebagai penyeimbang risiko portofolio dibandingkan sebagai mesin return agresif.

Menurut Melvin, reli emas tahun 2025 didorong oleh sejumlah katalis struktural yang masih relevan di tahun 2026, meskipun dengan potensi kenaikan yang lebih moderat. Ekspektasi pemangkasan suku bunga global menjadi salah satu pendorong utama, karena menurunkan opportunity cost memegang emas.

Ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global yang belum mereda juga membuat emas tetap berfungsi sebagai aset lindung nilai (safe haven). Tren diversifikasi cadangan devisa oleh bank sentral, khususnya di negara berkembang, juga menopang harga emas dalam jangka menengah.

Melvin menyarankan agar investor tidak lagi memposisikan emas sebagai satu-satunya penggerak imbal hasil pada tahun 2026, melainkan sebagai instrumen stabilisasi portofolio.

Dari sisi aset berisiko, IHSG dinilai masih berpeluang menguat pada tahun 2026, namun dengan penguatan yang lebih selektif. Saham dengan fundamental solid, arus kas kuat, serta valuasi yang masuk akal diperkirakan akan lebih unggul. Sektor domestik, konsumsi, dan keuangan berpotensi mendapat sentimen positif dari tren suku bunga yang lebih rendah.

Instrumen obligasi, baik pemerintah maupun korporasi, dinilai semakin menarik. Selain peluang capital gain lanjutan jika tren penurunan suku bunga berlanjut, obligasi juga berperan menjaga stabilitas portofolio di tengah volatilitas pasar aset berisiko.

Melvin mengkategorikan kripto, khususnya Bitcoin, sebagai aset berisiko tinggi pada tahun 2026. Volatilitas ekstrem diperkirakan masih akan terjadi, dengan pergerakan yang sangat dipengaruhi oleh sentimen global, likuiditas, serta perkembangan regulasi.

Ia menekankan pentingnya melihat investasi dari sisi risk-adjusted return, bukan semata-mata mengejar return tertinggi. Instrumen yang dinilai prospektif mencakup saham fundamental dengan prospek pertumbuhan laba yang solid, obligasi tenor menengah hingga panjang, emas sebagai penyeimbang risiko, serta instrumen pasar uang untuk menjaga likuiditas.

Melvin menyarankan investor untuk rebalancing portofolio secara bertahap, termasuk mengunci sebagian keuntungan dari aset yang sudah naik signifikan seperti emas, lalu mengalihkan dana ke aset yang masih undervalued.

Investor juga disarankan untuk memperpanjang durasi obligasi secara selektif, fokus pada kualitas aset, menjaga likuiditas dengan porsi sekitar 25%-35%, serta tetap disiplin pada tujuan keuangan jangka panjang.

Untuk investor konservatif, Melvin merekomendasikan porsi obligasi dan kas yang lebih dominan, sedangkan profil moderat menyeimbangkan saham dan obligasi. Investor agresif dapat menempatkan porsi lebih besar pada saham, dengan tetap menjaga diversifikasi.

Rekomendasi