Padang – Perbankan syariah di Sumatera Barat mencatatkan pertumbuhan aset yang signifikan sepanjang tahun 2025.
Total aset perbankan syariah mencapai Rp14,36 triliun, melonjak 10,58 persen dibandingkan tahun sebelumnya (year on year/yoy).
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sumatera Barat, Roni Nazra, mengungkapkan, capaian ini menunjukkan peran penting perbankan syariah dalam mendukung ekonomi daerah.
“Perbankan syariah di Sumatera Barat terus menunjukkan kinerja yang sangat positif,” kata Roni, Senin (9/2/2026).
Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan syariah mencapai Rp11,20 triliun, tumbuh 2,74 persen (yoy).
Penyaluran pembiayaan juga mengalami pertumbuhan pesat, mencapai Rp12,10 triliun atau naik 14,27 persen (yoy).
Kualitas pembiayaan perbankan syariah tetap terjaga dengan baik.
Rasio Non Performing Financing (NPF) berada di level 1,75 persen, masih dalam kategori aman meski sedikit meningkat dari tahun sebelumnya (1,32 persen).
“Rasio NPF perbankan syariah tetap rendah dan terkendali,” ujar Roni.
Secara keseluruhan, industri perbankan di Sumatera Barat mencatat total aset Rp85,37 triliun, tumbuh 1,64 persen (yoy).
Total penyaluran kredit dan pembiayaan mencapai Rp73,86 triliun, tumbuh 0,68 persen (yoy).
Penghimpunan DPK sebesar Rp58,98 triliun, tumbuh 5,09 persen (yoy).
Kualitas kredit perbankan secara umum terjaga dengan rasio Non Performing Loan (NPL) sebesar 2,67 persen.
Bank Perekonomian Rakyat (BPR), baik konvensional maupun syariah, juga menunjukkan pertumbuhan solid.
Total aset BPR di Sumbar mencapai Rp3,12 triliun, tumbuh 11,35 persen (yoy).
Sebanyak 71,39 persen kredit dan pembiayaan BPR disalurkan ke sektor UMKM.
OJK Sumbar akan terus mendorong penguatan perbankan syariah agar semakin berkontribusi pada pembiayaan sektor produktif dan pembangunan ekonomi Sumatera Barat.




















