Jakarta – Tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat serta lonjakan harga minyak dunia memaksa sejumlah perusahaan sekuritas melakukan penyesuaian target Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) untuk akhir 2026. Proyeksi pertumbuhan laba yang lebih konservatif menjadi alasan utama revisi target tersebut.
Samuel Sekuritas menurunkan target IHSG akhir 2026 ke level 7.500. Head of Research Samuel Sekuritas, Prasetya Gunadi, menyatakan revisi ini didasarkan pada asumsi pertumbuhan laba perusahaan yang melambat menjadi 2%. Dalam skenario optimis (bullish), IHSG diprediksi mampu mencapai 8.000, namun dalam skenario terburuk (bearish) indeks bisa tertekan ke level 6.300.
Prasetya menjelaskan pelemahan rupiah yang berpotensi menuju level Rp 17.500 per dolar AS menjadi faktor pemberat. Jika mata uang Garuda menyentuh angka Rp 18.000 per dolar AS, sektor perbankan dan consumer staples diperkirakan akan menghadapi risiko kualitas aset yang lebih signifikan.
Langkah serupa juga diambil oleh RHB Sekuritas Indonesia yang memangkas target IHSG dari 9.400 menjadi 8.100. Head of Research RHB Sekuritas Indonesia, Andrey Wijaya, menyebutkan bahwa meski permintaan domestik tetap tangguh, ketidakpastian suku bunga global dan volatilitas komoditas menuntut kehati-hatian.
Menurut Andrey, meski pasar saham menghadapi tantangan likuiditas dan kenaikan biaya, sektor perbankan, energi, hingga telekomunikasi masih menjadi fokus utama. Skenario bearish RHB berada di level 6.800, sementara target optimistis dipatok pada level 8.700.
Di sisi lain, Head of Research CGS International Sekuritas Indonesia, Hadi Soegiarto, melihat potensi puncak pesimisme investor terjadi pada periode Mei hingga Juni 2026. Hal ini justru dinilai sebagai momentum bagi investor untuk masuk ke pasar, mengingat valuasi banyak emiten kini berada di titik terendah dalam satu dekade terakhir.
Dalam menghadapi kondisi pasar saat ini, Samuel Sekuritas merekomendasikan strategi beli pada saham ANTM dengan target harga Rp 4.600, BUMI di level Rp 300, BULL di harga Rp 700, INDF di target Rp 7.900, serta SILO sebagai pilihan defensif dengan target Rp 3.000. Sementara itu, CGS International tetap mencermati peluang pada saham komoditas dan non-komoditas, termasuk BBNI, MEDC, hingga HMSP.



















