Jakarta – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk mencatat pertumbuhan laba bersih sebesar 22,6 persen secara tahunan, mencapai Rp1,1 triliun pada kuartal I 2026.
Kinerja positif ini ditopang oleh kenaikan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) sebesar 13 persen year on year menjadi Rp4,26 triliun per akhir Maret 2026.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu menyatakan bahwa capaian tersebut merupakan hasil transformasi perusahaan dalam beberapa tahun terakhir.
Peningkatan laba didorong oleh efisiensi cost of fund serta perbaikan kualitas kredit yang terus dilakukan perseroan.
Dana pihak ketiga (DPK) BTN tumbuh 9,9 persen year on year menjadi Rp422,63 triliun pada kuartal I 2026. Dana murah atau current account saving account (CASA) meningkat 7,9 persen menjadi Rp212,11 triliun dengan kontribusi 50,2 persen terhadap total DPK.
Cost of fund turun menjadi 3,0 persen dibandingkan 4,0 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penyaluran kredit meningkat 10,3 persen year on year menjadi Rp400,63 triliun.
Kredit pemilikan rumah (KPR) subsidi mencapai Rp193,55 triliun atau naik 7,7 persen, sementara KPR nonsubsidi tercatat Rp112,56 triliun atau tumbuh 5,4 persen. Total aset BTN ikut naik 10,5 persen menjadi Rp517,54 triliun.
Pengguna aplikasi digital BTN melonjak 67,5 persen year on year menjadi 4 juta pengguna. Rata-rata saldo tabungan meningkat 18 persen, jumlah transaksi naik 8,1 persen, dan nilai transaksi melonjak 48,2 persen.
Kinerja positif BTN juga didukung kebijakan pemerintah yang berpihak pada masyarakat menengah ke bawah. Sejak 1976 hingga awal April 2026, BTN telah menyalurkan KPR sebanyak 6 juta unit rumah, memberikan hunian layak bagi sekitar 24 juta orang.
Sektor perumahan dinilai memiliki dampak ekonomi besar karena bersifat padat karya dan melibatkan tenaga kerja lokal. Sekitar 90 persen bahan bangunan berasal dari produk dalam negeri.



















