Jakarta – Film terbaru produksi Palari Films berjudul Monster Pabrik Rambut tidak hanya menyajikan teror visual yang mencekam, tetapi juga menjadi medium kritik terhadap realitas dunia kerja di Indonesia. Melalui kolaborasi sutradara Edwin dan penulis Eka Kurniawan, film ini menyoroti sisi gelap industri, khususnya yang dialami oleh para pekerja kerah biru.
Aktor utama film ini, Iqbaal Ramadhan, mengungkapkan bahwa narasi yang diusung ingin memotret dinamika hubungan antara perusahaan dan pekerja. Ia menyoroti fenomena di mana standar keselamatan kerja sering kali diabaikan demi tuntutan ekonomi.
“Bung Edwin dan Bung Eka mencoba mengkritisi apa yang sebenarnya terjadi di tempat kerja di Indonesia, terutama bagi para pekerja kerah biru. Sering kali, pekerja mengabaikan protokol demi efisiensi waktu agar pekerjaan cepat selesai dan penghasilan segera cair,” ujar Iqbaal dalam jumpa pers di Kemang, Jakarta Selatan, Senin (20/4).
Iqbaal menyebut kondisi ini sebagai hubungan yang tidak ideal, di mana ada andil dari kedua belah pihak. Di satu sisi perusahaan menetapkan standar, namun di sisi lain pekerja kerap meremehkan prosedur tersebut karena desakan kebutuhan hidup.
Selain masalah keselamatan, film ini juga mengangkat kritik tajam terhadap normalisasi budaya kerja berlebih atau overwork. Bagi Iqbaal, sikap permisif masyarakat terhadap tekanan kerja yang tidak manusiawi merupakan horor yang sesungguhnya.
“Horor yang sebenarnya adalah karena kita sudah sangat menormalisasi budaya kerja berlebih ini. Kita cenderung memaklumi beban kerja yang tidak wajar dengan dalih profesionalisme atau sekadar agar tidak dianggap ribet,” tambahnya.
Sutradara Edwin menegaskan bahwa sistem eksploitatif yang digambarkan dalam film tersebut merupakan isu universal. Menurutnya, praktik ini tidak hanya terjadi di lingkungan pabrik, tetapi juga lazim ditemukan di dunia perkantoran hingga industri kreatif, di mana banyak individu yang tereksploitasi atau bahkan mengeksploitasi dirinya sendiri.
Monster Pabrik Rambut mengisahkan perjalanan Putri (Rachel Amanda) yang terpaksa bekerja di pabrik demi melunasi utang sang ibu. Sementara adiknya, Ida (Lutesha), mencurigai kematian ibu mereka berkaitan dengan hal-hal mistis di pabrik tersebut. Ketegangan memuncak saat keduanya mulai menyaksikan serangkaian kejadian aneh yang menimpa para pekerja di sana.
Setelah sebelumnya menyapa penonton di Berlinale Film Festival, film ini dijadwalkan akan tayang serentak di bioskop Indonesia pada 4 Juni mendatang.























