Jakarta – Pemerintah menargetkan pembangunan jaringan rel kereta api sepanjang 14.000 kilometer di luar Pulau Jawa untuk menekan biaya logistik dan memacu produktivitas nasional. Proyek strategis yang menjangkau Pulau Sumatera, Kalimantan, hingga Sulawesi ini diproyeksikan membutuhkan investasi jumbo sebesar Rp 1.200 triliun hingga tahun 2045.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur Agus Harimurti Yudhoyono menegaskan bahwa skema pembiayaan menjadi tantangan utama dalam merealisasikan ambisi tersebut. Mengingat beban anggaran yang besar, pemerintah tidak akan mengandalkan APBN sepenuhnya.
Skema pendanaan akan bersifat kolaboratif, melibatkan APBD, skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU), serta investasi swasta maupun asing. Langkah ini diambil untuk mengatasi masalah kurangnya investasi atau underinvestment di sektor perkeretaapian dibandingkan dengan pembangunan jalan raya.
Sebagai langkah konkret tahap awal, pemerintah saat ini sedang mematangkan perhitungan dan kajian teknis untuk pembangunan jalur kereta di Sumatera bagian utara, khususnya pada ruas Banda Aceh-Besitang.
Pengembangan jaringan rel di luar Jawa dilakukan secara bertahap, baik melalui pembangunan jalur baru maupun reaktivasi jalur lama. Fokus jangka menengah hingga panjang ini diharapkan mampu mengubah paradigma transportasi, di mana kereta api tidak hanya diandalkan untuk mobilitas penumpang, tetapi juga menjadi tulang punggung angkutan barang.
Pemerintah menyadari bahwa saat ini distribusi jaringan rel masih timpang karena terkonsentrasi di Pulau Jawa. Sementara itu, wilayah di luar Jawa seperti Sulawesi masih terbatas, dan Kalimantan bahkan belum memiliki jaringan kereta api sama sekali.
Untuk memastikan proyek ini berjalan efektif, pemerintah juga tengah menyiapkan penguatan kelembagaan. Langkah penyeimbangan pembangunan infrastruktur ini dinilai krusial agar pengembangan sektor perkeretaapian nasional menjadi lebih optimal dan merata.
























