Padang – Bank Nagari membukukan laba bersih Rp110,61 miliar pada kuartal I 2026. Angka itu turun 5,96 persen secara tahunan atau year on year (YoY) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp117,62 miliar.
Di tengah penurunan laba, pendapatan bunga bersih bank daerah tersebut justru masih mencatat pertumbuhan. Hingga akhir Maret 2026, pendapatan bunga bersih naik 6,44 persen YoY menjadi Rp486,41 miliar, dari Rp456,98 miliar pada kuartal I 2025.
Namun, kenaikan beban operasional lainnya menjadi penekan utama kinerja bank. Total beban Bank Nagari tercatat naik 17,67 persen YoY dari Rp321,66 miliar menjadi Rp378,48 miliar.
Lonjakan itu terutama berasal dari komponen nonbunga. Beban penurunan nilai atau impairment meningkat 36,82 persen menjadi Rp71,15 miliar, sedangkan beban tenaga kerja ikut naik 20,06 persen menjadi Rp241,97 miliar.
Pada level operasional, Bank Nagari mencatat laba operasional Rp107,92 miliar. Capaian ini turun 20,25 persen YoY dari sebelumnya Rp135,32 miliar.
Sebaliknya, laba nonoperasional justru melesat 118,99 persen YoY, dari Rp15,47 miliar menjadi Rp33,88 miliar.
Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit Bank Nagari tercatat Rp20,41 triliun. Realisasi itu turun 3,89 persen dibandingkan kuartal I 2025 yang sebesar Rp21,24 triliun.
Adapun dana pihak ketiga (DPK) tumbuh tipis 1,18 persen YoY menjadi Rp27,18 triliun dari Rp26,86 triliun. Kenaikan tersebut terutama ditopang oleh simpanan giro yang melonjak 61,37 persen menjadi Rp5,04 triliun, dari sebelumnya Rp3,12 triliun.
Dari sisi permodalan, rasio kewajiban penyediaan modal minimum (KPMM) naik dari 21,13 persen menjadi 21,99 persen.
Meski begitu, kualitas kredit sedikit tertekan. Rasio kredit bermasalah atau NPL gross naik menjadi 2,65 persen dari 2,07 persen, sementara NPL net meningkat dari 0,50 persen menjadi 0,85 persen.
Untuk profitabilitas, Net Interest Margin (NIM) membaik dari 5,86 persen menjadi 6,20 persen. Sebaliknya, rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional atau BOPO ikut naik dari 83,10 persen menjadi 86,02 persen pada kuartal I 2026.



















