Jakarta – Fluktuasi pasar saham yang tajam sering kali memicu keputusan emosional bagi investor ritel, terutama saat harga aset anjlok. Untuk menghindari jebakan psikologis tersebut, investor perlu mengedepankan analisis teknikal yang matang dibandingkan sekadar mengikuti insting saat melihat harga saham murah.
Alfian Limardi, seorang investor ritel yang telah menjadi nasabah BNI Sekuritas sejak 2016, berbagi pengalamannya mengenai pentingnya disiplin dalam berinvestasi. Menurutnya, kesalahan umum yang sering dilakukan investor adalah terjebak dalam fenomena menangkap pisau jatuh, yakni membeli saham yang sedang dalam tren penurunan tanpa adanya konfirmasi pembalikan arah yang jelas.
“Kadang kita gelap mata. Melihat harga turun langsung ingin beli karena merasa murah, padahal ini berisiko jika tidak disertai analisis yang matang,” ujar Alfian, Kamis (4/6/2026).
Guna meminimalisir risiko tersebut, Alfian kini mengandalkan sesi live trading yang diadakan oleh BNI Sekuritas sebagai wadah pembelajaran. Melalui sesi edukasi tersebut, ia belajar menentukan level support dan resistance guna memetakan kapan waktu yang tepat untuk masuk ke pasar, mengambil profit, atau melakukan cut loss.
Selain mengasah kemampuan analisis, sesi tersebut juga menjadi ruang diskusi bagi para investor untuk mengevaluasi portofolio mereka. Alfian menilai bahwa belajar secara kolektif terbukti lebih efektif dalam membangun kedisiplinan dan meredam kepanikan saat pasar berada dalam kondisi tidak menentu.
Dalam aktivitas harian, Alfian tetap memanfaatkan aplikasi BIONS sebagai alat bantu utama untuk memantau pergerakan harga dan membaca chart. Meski demikian, ia menegaskan bahwa teknologi hanyalah pendukung, sementara keputusan akhir tetap harus berpijak pada manajemen risiko dan logika yang terukur.
Pengalaman Alfian menunjukkan bahwa di tengah dinamika pasar yang terus berubah, sikap tenang dan tidak terburu-buru merupakan kunci utama bagi investor ritel untuk tetap bertahan dan mengelola aset mereka dengan lebih bijak.

















