Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan pelemahan tajam sebesar 204,93 poin atau 2,85 persen pada perdagangan Jumat (8/5), ditutup ke level 6.969,396. Aksi jual ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik global serta kekhawatiran pasar terhadap kondisi eksternal.
Tekanan jual turut menghantam indeks saham unggulan LQ45 yang merosot 2,39 persen ke posisi 677,179. Sepanjang hari, total nilai transaksi tercatat mencapai Rp 35,81 triliun dengan volume perdagangan 55,77 miliar saham yang melibatkan 2,80 juta kali transaksi.
Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menjelaskan bahwa volatilitas pasar saham domestik saat ini didorong oleh ketidakpastian global, terutama akibat eskalasi konflik antara Iran dan Israel. Serangan terhadap kapal di Selat Hormuz menjadi pemicu utama yang menekan sentimen pelaku pasar.
“Kondisi global yang belum kondusif membuat IHSG cukup volatil. Serangan di Selat Hormuz menjadi faktor signifikan yang membuat pasar keuangan kita berada dalam tekanan,” jelas Myrdal.
Meski demikian, ia menilai fundamental ekonomi Indonesia masih terjaga dengan baik, yang tercermin dari pertumbuhan ekonomi kuartal I sebesar 5,61 persen secara tahunan (yoy). Namun, selama sentimen global belum membaik, investor diperkirakan akan tetap membatasi aktivitas investasi untuk jangka pendek.
Senada dengan hal tersebut, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, menyatakan bahwa pasar masih dibayangi ketidakpastian mengenai prospek gencatan senjata di Timur Tengah.
“Gencatan senjata masih menjadi tanda tanya besar. Selain faktor geopolitik, pasar saat ini juga sedang mengantisipasi agenda rebalancing indeks MSCI yang dijadwalkan berlangsung pada 12 Mei mendatang. Wajar jika IHSG saat ini tengah mengalami koreksi,” ungkap Nafan.



















