Menakar Ketangguhan SMGR dan INTP Menghadapi Tantangan Industri Semen 2026

persen

Jakarta – Industri semen nasional dihadapkan pada tantangan berat setelah kuartal I-2026, dengan prospek pertumbuhan kinerja yang diprediksi akan berjalan terbatas. Tekanan struktural berupa kelebihan kapasitas produksi (oversupply) serta sengitnya perang harga di pasar domestik menjadi faktor utama yang membebani prospek emiten-emiten di sektor ini.

Meski menghadapi tantangan berat, sejumlah emiten semen berhasil mencatatkan perbaikan performa keuangan di awal tahun 2026. Keberhasilan ini didorong oleh penerapan strategi efisiensi biaya yang disiplin, penyesuaian harga jual rata-rata, hingga optimalisasi pasar ekspor dan keterlibatan dalam proyek infrastruktur.

PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar 8,37% secara tahunan menjadi Rp 8,29 triliun, dengan laba bersih melonjak 88,68% menjadi Rp 80,34 miliar. Corporate Secretary Semen Indonesia, Vita Mahreyni, menyatakan bahwa strategi transformasi bisnis yang disiplin menjadi kunci perusahaan dalam menjaga resiliensi serta memperkuat fondasi pertumbuhan jangka panjang.

Tren serupa terjadi pada anak usaha SMGR, yakni PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB), yang membukukan kenaikan pendapatan 3,64% menjadi Rp 2,56 triliun dan lonjakan laba bersih hingga 111,30% mencapai Rp 101,89 miliar. Sementara itu, PT Cemindo Gemilang Tbk (CMNT) mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 7,77% menjadi Rp 2,08 triliun sekaligus berhasil menekan kerugian bersih sebesar 69,59%.

Di sisi lain, tidak semua emiten mencatatkan hasil positif. PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) mengalami penurunan pendapatan sebesar 3,52% menjadi Rp 3,84 triliun, meski laba bersihnya masih mampu tumbuh tipis 2,14%. Sementara itu, PT Semen Baturaja Tbk (SMBR) mencatatkan penurunan performa dengan pendapatan merosot 16,75% dan laba bersih yang terkoreksi 64,62%.

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia, Muhammad Wafi, mengungkapkan bahwa efisiensi dan perbaikan harga jual menjadi penyelamat bagi SMGR, SMCB, dan CMNT. Ia menambahkan bahwa pelemahan volume penjualan akibat ketatnya persaingan masih menjadi beban utama bagi pemain lain di pasar.

Pandangan senada disampaikan Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta. Ia menilai pemulihan sektor semen baru akan terjadi secara signifikan jika permintaan dari sektor properti dan infrastruktur meningkat, serta didukung oleh kebijakan moneter yang lebih agresif.

Selain masalah permintaan, emiten semen juga tertekan oleh kenaikan biaya energi, seperti batubara dan minyak bumi. Oleh karena itu, penguatan efisiensi energi serta diversifikasi pasar menjadi strategi krusial untuk menjaga margin keuntungan di tengah kondisi pasar yang menantang.

Wafi memandang bahwa emiten dengan skala bisnis besar, jaringan distribusi luas, dan neraca keuangan solid seperti SMGR dan INTP masih memiliki peluang unggul. Untuk prospek investasi, ia menempatkan target harga saham SMGR di level Rp 5.500 dan INTP di level Rp 8.500 per saham.

Rekomendasi