Jakarta – PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera), anak usaha baru PT Danantara Investment Management (DIM) di sektor pengelolaan sampah, menargetkan melantai di Bursa Efek Indonesia melalui penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) pada 2028.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia Pandu Sjahrir mengatakan langkah itu akan ditempuh setelah proyek Waste to Energy (WtE) atau Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) mulai menghasilkan arus kas.
“Insyaallah karena 2028 mulai ada cash flow, we can take this public. Kalau ada cash flow kan kita bisa masuk ke pasar modal,” ujar Pandu dalam Investor Relations Forum di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta Pusat, Senin (11/5).
Denera berperan sebagai perusahaan holding untuk seluruh entitas pelaksana proyek WtE. Melalui struktur ini, perusahaan mengonsolidasikan investasi, pengembangan, dan operasional proyek PSEL di berbagai wilayah Indonesia.
Holding tersebut akan menjadi induk bagi setiap Badan Usaha Pengembang dan Pengelola (BUPP) PSEL. Masing-masing BUPP merupakan gabungan antara Denera dan konsorsium mitra terpilih.
Pandu menyebut saat ini ada 33 proyek PSEL yang tengah berjalan dengan total nilai investasi mencapai US$5 miliar atau sekitar Rp87 triliun, dengan asumsi kurs Rp17.409 per dolar AS.
“Saya rasa ini akan menjadi salah satu waste to energy company terbesar yang akan ada di dunia. Saya rasa ini bisa jadi katalis yang baik kalau kita bisa masuk nanti, kalau diperbolehkan, di Bursa Efek Indonesia,” kata Pandu.
Ia juga mengungkapkan pada awal Juni mendatang akan ada penandatanganan Power Purchase Agreement (PPA) baru untuk proyek-proyek PSEL.
Dalam pengembangan proyek WtE itu, Danantara kembali menggandeng mitra asing dan lokal. Pandu menyebut perusahaan juga akan mengambil porsi kepemilikan yang lebih besar pada tahap berikutnya.
“We will also take bigger stake. Jadi kita sekarang akan mengambil untuk fase kedua minimum 51 persen. Jadi kita akan lebih besar lagi,” ujar Pandu.




















