Texas – SpaceX tengah bersiap meluncurkan uji terbang ke-12 roket Starship dari fasilitasnya di Texas. Misi krusial ini menjadi tonggak sejarah bagi ambisi Elon Musk dalam menaklukkan ruang angkasa, sekaligus menjadi sinyal kuat bagi Wall Street bahwa perusahaan antariksa tersebut bersiap melakukan penawaran umum perdana (IPO) dengan skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
SpaceX diproyeksikan akan melantai di bursa dengan valuasi mencapai USD 1,75 triliun hingga USD 2 triliun. Perusahaan berencana menghimpun dana hingga USD 75 miliar, sebuah angka yang hampir tiga kali lipat lebih besar dari rekor IPO Saudi Aramco.
Di balik rencana ambisius tersebut, muncul kekhawatiran serius terkait tata kelola perusahaan. Sejumlah analis menyoroti struktur kendali yang terpusat sepenuhnya pada Musk. Bahkan setelah menjadi entitas publik, desain tata kelola ini berpotensi memberikan kendali ekstrem kepada sang pendiri, memicu perdebatan mengenai akuntabilitas kepada pemegang saham.
Visi jangka panjang Musk mencakup pembangunan koloni berpenduduk satu juta orang di Mars serta peluncuran satelit pusat data berkekuatan 100 terawatt. Proyeksi internal perusahaan bahkan menargetkan valuasi hingga USD 7,5 triliun, dengan skema kompensasi saham bagi Musk yang mencapai 260 juta lembar jika seluruh target ambisius tersebut tercapai.
Para ahli mencatat bahwa tantangan teknis untuk mewujudkan visi ini sangat luar biasa. Dibutuhkan setidaknya 1.000 wahana antariksa untuk mengangkut jutaan ton kargo dan ribuan orang ke Mars. Operasional ini menuntut frekuensi peluncuran yang masif, yakni lebih dari 10 kali sehari setiap kali jendela orbit terbuka.
Chris Quilty dari Quilty Analytics menilai langkah IPO ini sebagai pergeseran strategi yang signifikan. Selama dua dekade, narasi kolonisasi Mars digunakan sebagai alasan SpaceX untuk tetap menjadi perusahaan privat agar terhindar dari tekanan pertanggungjawaban publik atas biaya operasional yang sangat besar.
Sentimen pasar terhadap IPO ini terbelah. Investor ritel diperkirakan akan menyerap hingga 30 persen saham, yang diprediksi akan menciptakan volatilitas tinggi karena pengaruh basis penggemar Musk yang besar. Kelompok aktivis pemegang saham seperti Ekō pun mulai melayangkan kritik, menyebut bahwa kompensasi triliunan dolar bagi Musk menunjukkan absennya batasan tanggung jawab.
Gordon Johnson dari GLJ Research menegaskan bahwa skema ini dirancang secara struktural untuk mengukuhkan posisi pendiri, alih-alih menyelaraskan kepentingan dengan pemegang saham publik. Kini, dunia menanti apakah langkah SpaceX menuju indeks Nasdaq akan menjadi lompatan peradaban manusia atau justru mencatatkan sejarah sebagai bentuk konsentrasi kekuasaan korporasi terbesar di pasar modern.




















