Jakarta – Stabilitas pasar obligasi Amerika Serikat (Treasury) kini menjadi sorotan di tengah ancaman krisis energi global akibat penutupan Selat Hormuz. Kepala Bank Sentral AS (The Fed) Dallas, Lorie Logan, memperingatkan bahwa ketahanan pasar keuangan AS harus diperkuat guna menghadapi guncangan ekonomi yang dipicu oleh konflik geopolitik.
Logan menyoroti kerentanan investor dengan leverage tinggi yang mendominasi kepemilikan Treasury. Menurutnya, posisi tersebut berisiko mengalami unwind atau pembatalan posisi secara cepat jika terjadi guncangan pendanaan.
“Posisi dengan leverage tinggi dapat berbalik dengan cepat jika terjadi guncangan harga atau pendanaan,” ujar Logan dalam pidatonya di konferensi Bank Sentral Jepang (BOJ).
Ia menegaskan bahwa pasar Treasury merupakan fondasi utama keuangan AS yang menopang aliran investasi serta transmisi kebijakan moneter. Oleh karena itu, ia menyerukan peningkatan ketahanan pasar melalui kliring terpusat dan penguatan instrumen likuiditas di luar operasi repo yang ada saat ini.
Di sisi lain, penutupan Selat Hormuz oleh Iran yang telah berlangsung selama tiga bulan terus menekan pasokan energi dunia. Kondisi ini memicu lonjakan harga komoditas, mulai dari energi hingga pangan.
Logan menilai dunia harus bersiap menghadapi keterbatasan pasokan minyak dan gas yang lebih ekstrem jika jalur pelayaran tersebut tidak segera dibuka kembali. Ia menekankan pentingnya efisiensi penggunaan energi sebagai langkah mitigasi agar aktivitas ekonomi tidak terhenti.
“Dengan pasokan yang sangat terbatas, jika pelayaran melalui selat tidak segera kembali seperti sebelum perang, konsumsi minyak dan gas alam dunia mungkin turun lebih signifikan daripada yang terjadi sejauh ini,” jelasnya.
Data menunjukkan penurunan pasokan minyak global mencapai 13 juta barel per hari sejak perang dimulai. Sementara itu, proyeksi peningkatan produksi minyak AS pada 2026 hanya berkisar 250 ribu barel per hari, angka yang dinilai jauh dari cukup untuk menutupi defisit global.
Saat ini, kekurangan pasokan energi dunia masih ditambal dengan menguras cadangan persediaan yang jumlahnya semakin menipis. Logan menegaskan bahwa pasar energi pada akhirnya akan mencapai titik keseimbangan, namun dengan konsekuensi konsumsi yang harus ditekan secara drastis.
“Bagaimanapun caranya, saya memperkirakan pasar energi akan mencapai keseimbangan dalam waktu dekat. Jika molekul energi tersebut tidak tersedia, dunia tidak akan bisa mengonsumsinya,” pungkas Logan.



















