Praktisi Keamanan TI Angkat Bicara Soal Isu Kebocoran Data Bank

persen

Jakarta – Praktisi keamanan siber, Syahraki Syahrir, memastikan sistem keamanan siber di sektor perbankan Indonesia merupakan salah satu yang paling matang dan kuat. Pernyataan ini disampaikan untuk meredam kekhawatiran publik terkait isu kebocoran data yang kerap menyeret nama institusi keuangan.

Menurut Syahraki, perbankan di Indonesia telah melalui pengawasan ketat dan berlapis dari berbagai regulator, termasuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), hingga Kementerian Komunikasi dan Digital. Standar keamanan yang diterapkan pun terus ditingkatkan secara berkelanjutan.

Terkait maraknya klaim kebocoran data di dark web, Syahraki menjelaskan bahwa masyarakat tidak perlu panik. Ia menegaskan bahwa data yang beredar di ekosistem digital tidak selalu berasal dari sistem inti perbankan. Mengingat kompleksitas ekosistem perbankan saat ini yang terintegrasi dengan banyak mitra pihak ketiga, potensi kebocoran data bisa saja terjadi di luar sistem utama bank.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menekankan pentingnya peran aktif nasabah dalam menjaga keamanan data pribadi. Meskipun bank telah menerapkan sistem keamanan berlapis, kejahatan siber tetap memiliki celah jika pengguna lalai menjaga kerahasiaan informasi sensitif mereka.

Friderica menyoroti bahwa risiko kejahatan digital kini semakin meningkat seiring dengan kecanggihan modus operandi para pelaku. Kesenjangan dalam literasi digital dan keuangan di tengah masyarakat sering kali menjadi pintu masuk bagi pelaku kejahatan.

Untuk meminimalisir risiko, Syahraki mengimbau masyarakat agar membangun budaya kehati-hatian dalam beraktivitas di ruang digital. Pengguna diminta untuk tidak memberikan informasi krusial seperti kata sandi, PIN, maupun kode OTP kepada pihak mana pun, termasuk mereka yang mengaku berasal dari pihak bank.

Langkah preventif yang disarankan adalah selalu melakukan verifikasi terhadap setiap permintaan informasi melalui kanal resmi, baik itu aplikasi perbankan maupun datang langsung ke kantor cabang terdekat. Kewaspadaan tinggi terhadap pesan atau tautan mencurigakan menjadi kunci utama dalam melindungi aset nasabah di era digital.

Rekomendasi