Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan pekan ini di zona merah setelah melemah 0,56 persen ke level 6.127,38 pada Jumat (29/5/2026). Pergerakan indeks mencerminkan sikap kehati-hatian investor akibat kombinasi tekanan sentimen global dan domestik.
Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menjelaskan bahwa tekanan pasar dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari singkatnya hari perdagangan, depresiasi nilai tukar rupiah, hingga aksi rebalancing indeks MSCI yang memicu tekanan jual pada saham-saham berkapitalisasi besar. Selain itu, pasar juga memantau ketegangan geopolitik, khususnya negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.
Tekanan pada rupiah menjadi beban tambahan bagi laju IHSG. Mata uang Garuda sempat tertekan hingga menyentuh level Rp17.881 per dolar AS. Meskipun bursa Asia sempat menunjukkan performa positif yang didorong oleh reli saham teknologi di Wall Street dan penurunan harga minyak mentah, sentimen tersebut belum cukup kuat untuk menahan laju pelemahan indeks.
Di sisi lain, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, memandang koreksi yang terjadi masih dalam batas wajar. Menurutnya, dampak rebalancing MSCI telah diantisipasi lebih awal oleh pelaku pasar, sehingga aksi jual tidak sedalam yang dikhawatirkan sebelumnya.
Menatap perdagangan pekan depan, Herditya memproyeksikan IHSG masih berpotensi mengalami koreksi dengan level support di 6.071 dan resistance di 6.262. Pasar diperkirakan akan sangat memperhatikan rilis data manufaktur China, data tenaga kerja Amerika Serikat, inflasi Indonesia, serta perkembangan isu gencatan senjata global.
Sementara itu, Alrich memprediksi indeks cenderung bergerak sideways di rentang 6.000 hingga 6.300. Indikator teknikal saat ini menunjukkan pergerakan indeks belum memiliki arah yang kuat.
Di tengah kondisi pasar yang menantang, investor dapat mencermati beberapa saham potensial untuk pekan depan. Saham DEWA diproyeksikan berada di target harga Rp 384 hingga Rp 412 per saham, UNTR di kisaran Rp 24.225 hingga Rp 25.250 per saham, serta UNVR pada rentang harga Rp 1.805 hingga Rp 2.000 per saham.



















