New York – Harapan meredanya konflik di Timur Tengah menjadi katalis utama penguatan bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, pada perdagangan Jumat (29/5/2026). Optimisme investor meningkat menyusul sinyal perpanjangan gencatan senjata antara AS dan Iran yang berpotensi menstabilkan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Indeks utama Wall Street kompak berakhir di zona hijau. S&P 500 menguat 0,22% ke posisi 7.580,12, sekaligus menorehkan rekor reli mingguan terpanjang sejak Desember 2023. Indeks Dow Jones Industrial Average naik 0,72% ke 51.032,65, sementara Nasdaq Composite tumbuh 0,21% menjadi 26.972,62.
Meskipun sempat menyentuh level tertinggi harian, pasar mengalami tekanan aksi ambil untung menjelang penutupan perdagangan akhir pekan. Meski demikian, sentimen positif ini merembet ke pasar global, di mana indeks MSCI mencatat kenaikan 0,51% yang turut diikuti oleh penguatan bursa di Eropa dan pasar negara berkembang.
Faktor pemicu utama di balik reli ini adalah laporan mengenai kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran. Meski masih menanti restu final dari Presiden AS Donald Trump, kesepakatan tersebut dinilai mampu meredam kekhawatiran pelaku pasar terhadap gangguan pasokan energi global.
Dampak langsung dari sentimen tersebut terlihat pada pasar komoditas. Harga minyak mentah AS terkoreksi 1,73% menjadi US$87,36 per barel, dan minyak Brent turun 1,77% ke level US$92,05 per barel akibat meredanya risiko geopolitik.
Sebaliknya, pasar obligasi menunjukkan tren penguatan dengan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun selama empat sesi berturut-turut ke level 4,441%. Sementara itu, harga emas terpantau naik 1,18% ke angka US$4.545 per ons karena investor masih memburu aset lindung nilai.
Di sisi kebijakan moneter, pelaku pasar terus mencermati potensi dampak konflik terhadap inflasi. Sebagian investor masih memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS, Federal Reserve, meskipun langkah tersebut saat ini belum menjadi skenario utama.
Secara keseluruhan, pasar global mengakhiri pekan dengan nada optimistis. Namun, para analis mengingatkan bahwa ketidakpastian politik terkait finalisasi kesepakatan antara AS dan Iran tetap menjadi variabel kunci yang akan membayangi pergerakan pasar ke depan.



















