Jakarta – Pelemahan nilai tukar rupiah yang menyentuh level terendah sepanjang sejarah di posisi Rp 17.881 per dolar AS pada Jumat (29/5/2026), membawa sentimen positif bagi emiten sektor pulp dan kertas yang berorientasi ekspor. PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) dan PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM) diprediksi menjadi pihak yang paling diuntungkan dari fenomena ini.
Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menjelaskan bahwa emiten dengan pendapatan berbasis dolar AS akan mengalami dorongan signifikan saat rupiah tertekan. Mengingat struktur pendapatan INKP dan TKIM didominasi oleh mata uang asing, pelemahan rupiah secara otomatis akan mengerek nilai pendapatan dalam mata uang domestik.
Meski sama-sama diuntungkan, para analis menilai INKP memiliki keunggulan lebih kompetitif dibandingkan TKIM. INKP dianggap lebih unggul dalam pengelolaan struktur biaya dan efisiensi operasional pasca ekspansi pabrik di Karawang.
Senior Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas, menyebut INKP jauh lebih optimal dalam memanfaatkan momentum penguatan dolar. Hal ini tercermin dari kinerja kuartal I-2026, di mana INKP mencatatkan laba bersih sebesar US$ 156,12 juta atau naik 11,43% secara tahunan, sementara laba bersih TKIM justru terkoreksi 17,19% menjadi US$ 81,71 juta.
Perbedaan kinerja tersebut dipicu oleh tingkat efisiensi, margin operasional, serta beban keuangan yang lebih terjaga di INKP. Selain itu, diversifikasi bisnis INKP ke segmen kertas industri memberikan stabilitas margin yang lebih baik dibandingkan TKIM yang masih rentan terhadap fluktuasi harga pulp global.
Memasuki kuartal II-2026, prospek INKP dipandang lebih cerah dengan estimasi peningkatan utilisasi pabrik Karawang hingga 30%. INKP diproyeksikan mampu meraih pendapatan tahunan mendekati US$ 3,8 miliar dengan laba bersih mencapai hampir US$ 700 juta. Sementara itu, kinerja TKIM diperkirakan cenderung stagnan akibat beban utang yang masih tinggi dan belum adanya tambahan kapasitas produksi.
Dari sisi valuasi, saham INKP dinilai masih atraktif dengan price to earnings ratio (PER) di angka 8,8 kali, jauh di bawah rata-rata global yang mencapai 13,4 kali. Potensi kontribusi dari pabrik baru di Karawang juga dianggap belum sepenuhnya tercermin dalam harga saham saat ini.
Menanggapi prospek tersebut, Wafi merekomendasikan beli saham INKP dengan target harga Rp 9.800, sedangkan TKIM dinilai lebih tepat untuk strategi trading jangka pendek. Sukarno Alatas turut memberikan rekomendasi beli untuk INKP dengan target Rp 10.000, dan akumulasi beli untuk TKIM dengan target harga Rp 6.400.
Pada penutupan perdagangan terakhir, saham INKP melemah 1,29% ke level Rp 7.675, sementara saham TKIM terkoreksi tipis 0,45% ke posisi Rp 5.575 per saham.



















