Siasat Pedagang Warteg Menjaga Harga di Tengah Kenaikan Bahan

persen

siasat-pedagang-warteg-hindari-fenomena-aneh-pembeli-‘in-this-economy’
Siasat Pedagang Warteg Hindari Fenomena Aneh Pembeli ‘In This Economy’

Jakarta – Para pengusaha warung tegal (warteg) di Jakarta kini memutar otak demi mempertahankan pelanggan di tengah lonjakan harga bahan pangan. Strategi “bertahan hidup” pun diterapkan agar harga jual tetap terjangkau meski margin keuntungan kian menipis.

Alih-alih menaikkan harga yang berisiko membuat pelanggan berpaling, para pedagang memilih melakukan efisiensi. Langkah yang diambil mulai dari memperkecil porsi potongan lauk hingga menyiasati komposisi menu agar tetap bisa dijual di kisaran harga Rp10 ribu hingga Rp17 ribu.

Juminah, pemilik Warteg Bahari di Lenteng Agung, Jakarta Selatan, mengaku terpaksa memangkas ukuran potongan ayam. Jika sebelumnya satu ekor ayam dibagi menjadi 10 bagian, kini ia membaginya menjadi 12 bagian.

“Kalau mau daging adanya ayam goreng dan balado, tapi karena harga-harga sekarang mahal, kita kurangi porsi. Tidak mungkin menaikkan harga, takutnya pelanggan pada kabur karena di sini banyak pilihan warung makan,” ujar Juminah.

Senada dengan Juminah, Ilham, pengelola warung nasi di kawasan Tanjung Barat, memilih untuk menekan margin keuntungan demi menjaga loyalitas pelanggan. Meski harga bahan baku meroket, ia tetap mempertahankan harga jual dan porsi menu andalannya.

“Harga naik semua, tapi kita tidak menaikkan harga dan porsi, kita kurangi saja untungnya. Soalnya pelanggannya sudah banyak,” kata Ilham.

Di sisi lain, perubahan perilaku konsumen juga terlihat jelas. Banyak pembeli kini lebih selektif dalam memilih lauk. Menu-menu premium seperti rendang, semur daging, dan cumi mulai ditinggalkan, digantikan dengan pilihan yang lebih ekonomis seperti tahu, tempe, telur balado, dan sayuran.

Amirah, seorang pedagang warteg di Jakarta Pusat, mengungkapkan bahwa saat ini mayoritas pembeli hanya membelanjakan uang di bawah Rp20 ribu untuk sekali makan.

“Sekarang banyak yang beli lauk agar harga makanannya cuma Rp10 ribuan. Ada sih yang Rp15 ribu, cuma yang di atas Rp20 ribu sudah mulai jarang,” ucap Amirah.

Kondisi ini pun diamini oleh para pelanggan, termasuk pengemudi ojek online yang menjadikan warteg sebagai tumpuan makan harian. Sobri, salah satu pengemudi ojol, mengaku kini lebih sering memilih menu sederhana seperti tahu, tempe, dan telur untuk menekan pengeluaran.

“Makan jarang daging, biasanya tahu tempe kentang dan telur balado saja. Rp15 ribu biasanya sekali makan, kadang cuma Rp13 ribu,” ungkap Sobri.

Rekomendasi