Jakarta – Tim Ekonom Bank Mandiri melalui Office of Chief Economist (OCE) memproyeksikan inflasi tahunan Indonesia pada Mei 2026 akan melonjak ke angka 3,21 persen secara tahunan (year on year). Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan catatan bulan sebelumnya yang berada di level 2,42 persen.
Secara bulanan, inflasi pada Mei 2026 juga diperkirakan naik menjadi 0,40 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang hanya mencapai 0,13 persen.
Lonjakan inflasi ini dipicu utamanya oleh kenaikan harga tiket pesawat serta peralihan tren harga pangan bergejolak dari deflasi menjadi inflasi ringan sebesar 0,20 persen. Sebelumnya, harga pangan sempat mengalami deflasi sebesar 0,88 persen pada April.
Beberapa komoditas pangan yang menjadi penyumbang utama kenaikan harga meliputi cabai merah yang melonjak 23 persen, bawang merah sebesar 4,1 persen, daging sapi 0,4 persen, dan beras 0,3 persen.
Selain sektor pangan, harga yang diatur pemerintah juga diprediksi mengalami inflasi bulanan sebesar 1,3 persen, naik dari bulan sebelumnya sebesar 0,69 persen. Kenaikan tajam harga tiket pesawat hingga 35,31 persen akibat dampak kenaikan harga minyak dunia menjadi faktor utama pendorong di kategori ini.
Di sisi lain, inflasi inti justru diperkirakan melandai ke level 0,19 persen secara bulanan dibandingkan 0,23 persen pada April. OCE Bank Mandiri menyebut penurunan ini dipengaruhi oleh pergerakan harga emas serta depresiasi nilai tukar rupiah.
Sebagai perbandingan, pada April 2026, inflasi tahunan ditopang oleh kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau dengan andil 0,9 persen. Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga memberikan andil inflasi sebesar 0,77 persen, yang didorong kuat oleh kenaikan harga komoditas emas perhiasan.
Data resmi mengenai tingkat inflasi Mei 2026 dijadwalkan akan diumumkan langsung oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada Selasa, 2 Juni 2026.



















