Jakarta – Mayoritas bursa saham di kawasan Asia mencatatkan penguatan pada perdagangan Kamis (25/6/2026) pagi, setelah sempat mengalami tekanan jual selama dua hari berturut-turut. Indeks MSCI Asia Pasifik terpantau naik lebih dari 1 persen, didorong oleh lonjakan signifikan pada saham-saham sektor teknologi yang menjadi katalis utama pemulihan pasar regional.
Sentimen positif ini muncul setelah kinerja keuangan emiten yang melampaui ekspektasi pasar, ditambah dengan penurunan harga minyak global yang memberikan ruang napas bagi investor. Optimisme ini memicu aksi beli di sejumlah bursa utama Asia, membawa indeks kembali ke zona hijau setelah sempat menyentuh level terendah dalam dua pekan terakhir.
Berdasarkan data perdagangan pukul 08.20 WIB, indeks Nikkei 225 di Jepang memimpin penguatan dengan kenaikan 1.948,09 poin atau 2,81 persen ke level 71.108,69. Kenaikan serupa juga terjadi pada indeks Taiex yang menguat 727,37 poin atau 1,54 persen ke posisi 46.773. Sementara itu, indeks Kospi di Korea Selatan mencatatkan reli tajam dengan kenaikan 352,10 poin atau 4,26 persen menuju level 8.831,92.
Di sisi lain, tidak semua bursa mencatatkan performa positif. Indeks Hang Seng di Hong Kong justru terkoreksi tipis 23,68 poin atau 0,10 persen ke 23.388,50. Kondisi serupa dialami oleh ASX 200 di Australia yang melemah 34,80 poin atau 0,40 persen ke level 8.773,60. Sementara itu, Straits Times di Singapura dan FTSE Malaysia bergerak relatif mendatar dengan kenaikan tipis masing-masing sebesar 0,09 persen dan 0,03 persen.
Kinerja sektor teknologi menjadi sorotan utama menyusul laporan pendapatan Micron yang sangat positif. Hasil tersebut memberikan keyakinan baru bagi pelaku pasar mengenai prospek bisnis kecerdasan buatan (AI) dan ketahanan siklus memori global.
Ahli strategi investasi di Betashares, Hugh Lam, menyatakan bahwa laporan pendapatan tersebut kembali mengingatkan investor bahwa perdagangan AI memiliki fondasi yang kuat. Meskipun sentimen pasar sering kali berfluktuasi akibat pergerakan harga saham yang drastis, kendala pasokan struktural pada DRAM dan NAND dinilai akan membatasi risiko pelemahan lebih lanjut pada saham-saham teknologi setidaknya hingga tahun 2027.
Di balik tren penguatan indeks saham, para pelaku pasar tetap mencermati dinamika mata uang. Dolar AS saat ini tercatat menguat ke level tertinggi dalam tujuh bulan terakhir, yang secara langsung menekan nilai tukar mata uang di Asia. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi investor di tengah upaya pasar untuk rebound dari koreksi yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Fokus investor kini tertuju pada kebijakan moneter lanjutan dan bagaimana penguatan mata uang dolar akan mempengaruhi arus modal masuk ke pasar negara berkembang di kawasan Asia dalam jangka pendek.























