Singapura – Harga minyak mentah dunia kembali mengalami tekanan hebat hingga mendekati level psikologis US$ 70 per barel pada perdagangan hari ini. Tren pelemahan harga energi fosil ini dipicu oleh akumulasi lonjakan suplai global yang melimpah serta adanya sinyal positif dari progres negosiasi perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran.
Data pasar menunjukkan harga minyak Brent terkoreksi 0,9 persen menjadi US$ 73,10 per barel pada pukul 09.01 waktu Singapura. Di sisi lain, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) tercatat berada di level US$ 69,76 per barel. Penurunan ini mencerminkan perubahan drastis dalam dinamika pasar energi global dibandingkan dengan periode puncak konflik geopolitik beberapa waktu lalu.
Struktur pasar minyak Brent bahkan telah berbalik ke kondisi contango yang bersifat bearish pada Rabu (24/6). Kondisi ini merupakan fenomena pertama kalinya yang terjadi sejak awal mula konflik memanas, menandakan bahwa para pelaku pasar kini lebih mengantisipasi kelebihan pasokan di masa depan dibandingkan kondisi kelangkaan yang sempat dikhawatirkan sebelumnya.
Pasar minyak dunia saat ini tengah mengalami banjir pasokan yang signifikan, terutama setelah munculnya berbagai tawaran minyak dari wilayah Timur Tengah dan Afrika. Peningkatan ketersediaan stok ini secara langsung menekan harga fisik minyak mentah dari berbagai produsen, mulai dari Angola hingga Uni Emirat Arab.
Jika dibandingkan dengan lonjakan harga pada awal Maret lalu, penurunan saat ini sangat kontras. Saat itu, harga WTI sempat meroket hingga menembus angka US$ 119 per barel, sementara Brent pernah menyentuh level tertinggi di atas US$ 140 per barel akibat ketidakpastian perang. Kini, harga WTI tercatat hanya terpaut tipis di atas level harga sebelum perang dimulai.
Faktor lain yang memperkuat tren penurunan ini adalah kemajuan dalam perundingan antara Amerika Serikat dan Iran. Meskipun terdapat perbedaan klaim dari kedua belah pihak, pembicaraan tersebut mengindikasikan upaya serius untuk meredam tensi konflik. Saat ini, kedua negara masih berfokus melakukan negosiasi lanjutan terkait isu krusial seperti program nuklir dan upaya gencatan senjata di Lebanon yang masih menghadapi tantangan teknis.
Optimisme pasar terhadap tercapainya kesepakatan damai jangka panjang juga terlihat dari aktivitas logistik di jalur perdagangan vital. Kini, semakin banyak kapal tanker yang berani melintasi Selat Hormuz dengan menyalakan sinyal satelit secara terbuka, sebuah indikasi berkurangnya ancaman keamanan di kawasan tersebut.
Associate Dean di Center for Global Affairs, New York University, Carolyn Kissane, menyatakan bahwa pergeseran narasi pasar dari ketakutan akan krisis pasokan menuju kondisi surplus menjadi pendorong utama pelemahan harga. Menurutnya, kombinasi antara pasokan yang semakin melimpah dan proyeksi permintaan yang cenderung rendah telah menjadi katalisator kuat bagi penurunan harga minyak mentah secara berkelanjutan di bursa global.























