Jakarta – Saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) mencatatkan penguatan signifikan pada penutupan perdagangan Kamis (25/6/2026). Emiten bank syariah terbesar di Indonesia ini ditutup menguat 5 persen ke level Rp 1.785 per saham. Pergerakan saham sempat dibuka pada level Rp 1.700 per saham di awal sesi perdagangan. Meski mencatatkan kenaikan harian yang impresif, secara tahun berjalan atau year to date (ytd), saham BRIS masih terkoreksi sebesar 19,96 persen.
Penguatan harga saham BRIS didorong oleh fundamental perusahaan yang dinilai tetap solid. Data perseroan menunjukkan pertumbuhan pembiayaan yang konsisten hingga Mei 2026, terutama pada segmen konsumer, dengan kualitas aset yang terjaga dengan baik. Investor Relation BSI, Rizky Budinanda, menjelaskan bahwa rasio biaya kredit atau cost of credit (CoC) perseroan berada di level 0,66 persen. Sementara itu, rasio kredit bermasalah atau non-performing financing (NPF) tetap stabil di kisaran 1,8 persen.
Kondisi likuiditas BRIS juga terpantau masih cukup longgar dengan rasio pembiayaan terhadap dana pihak ketiga (FDR) berada di bawah angka 90 persen. Selain itu, struktur dana murah berbasis syariah yang dimiliki perseroan mendukung biaya dana atau cost of fund tetap berada di level kompetitif dibandingkan industri perbankan nasional lainnya.
Minat investor terhadap saham BRIS mulai menunjukkan tren peningkatan. Indikator utama dari sentimen positif ini adalah kembalinya aliran dana asing atau capital inflow ke dalam saham BRIS. Rizky menilai akumulasi oleh investor asing ini merupakan bentuk pengakuan pasar terhadap daya tarik valuasi perseroan saat ini serta keyakinan terhadap prospek pertumbuhan jangka panjang. Pasar dinilai mulai merespons positif fundamental perusahaan yang terbukti tangguh dalam menghadapi tantangan ekonomi.
Posisi BRIS sebagai pemimpin pasar perbankan syariah di Indonesia memberikan ruang pertumbuhan yang luas. Seiring dengan peningkatan penetrasi keuangan syariah nasional, BRIS menempatkan diri sebagai motor utama pertumbuhan melalui ekspansi aset, pembiayaan, dan penambahan jumlah nasabah. Jaringan kantor yang luas yang didukung oleh ekosistem digital yang terus berkembang memungkinkan perseroan menjangkau masyarakat yang belum tersentuh layanan perbankan atau unbanked, serta nasabah yang secara khusus mencari alternatif layanan keuangan berbasis syariah.
Prospek jangka panjang BRIS juga mendapatkan dorongan dari kebijakan pemerintah melalui program Asta Cita Presiden Prabowo. Program tersebut menempatkan penguatan ekonomi syariah sebagai salah satu pilar utama pembangunan nasional. Dalam kerangka kebijakan tersebut, BRIS diharapkan dapat memainkan peran yang lebih besar dalam menyalurkan pembiayaan produktif, termasuk memperluas akses keuangan bagi pelaku UMKM serta masyarakat di daerah-daerah. Sinergi antara kinerja operasional yang kuat dan dukungan kebijakan pemerintah memperkuat posisi BRIS sebagai salah satu entitas keuangan dengan potensi pertumbuhan yang menjanjikan di pasar modal Indonesia.























