Ekonom InFast: Pelemahan IHSG Tidak Cerminkan Kondisi Ekonomi Riil

Data menunjukkan setidaknya 11 bursa saham global mencatatkan kinerja negatif dalam periode mingguan, bulanan, hingga tahunan.

persen

deret-saham-berpeluang-cuan-di-tengah-all-time-high-ihsg
Deret Saham Berpeluang Cuan di Tengah All Time High IHSG

Jakarta – Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terjadi belakangan ini dinilai sebagai bagian dari tren global yang melanda banyak bursa saham di dunia.

Ekonom InFast Institute, Bestari Gede Sandra, mengungkapkan bahwa fenomena penurunan ini tidak hanya dialami oleh Indonesia, melainkan juga terjadi secara masif di negara-negara anggota kelompok BRICS maupun sejumlah negara lainnya.

Data menunjukkan setidaknya 11 bursa saham global mencatatkan kinerja negatif dalam periode mingguan, bulanan, hingga tahunan.

Bursa yang terdampak meliputi Rusia, Hong Kong, China, Afrika Selatan, India, Maroko, Sri Lanka, Republik Ceko, Islandia, hingga Kuwait.

Secara mingguan, bursa Rusia memimpin penurunan dengan koreksi sebesar 9,72 persen, diikuti Afrika Selatan 6,02 persen, Indonesia 5,42 persen, Hong Kong 3,7 persen, dan Maroko 1,4 persen.

Tren koreksi berlanjut pada periode bulanan di mana bursa Rusia terkoreksi 13,65 persen, Hong Kong 8,54 persen, Islandia 7,19 persen, Afrika Selatan 6,02 persen, dan Indonesia 5,2 persen. Sementara untuk periode tahunan, IHSG mencatatkan penurunan terdalam sebesar 31,95 persen, disusul bursa Rusia 18,91 persen, Hong Kong 8,66 persen, India 8,07 persen, dan Islandia 7,7 persen.

Meskipun pasar saham mengalami tekanan, Gede menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak serta-merta merepresentasikan pelemahan ekonomi riil suatu negara.

Fenomena ini disebut sebagai decoupling, di mana pasar saham dan ekonomi riil bergerak ke arah yang berbeda. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak negara dengan pasar saham yang melemah justru mencatat pertumbuhan ekonomi yang solid, bahkan melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi global sebesar 3,2 persen.

Sebagai contoh, India mencatatkan pertumbuhan ekonomi 7,8 persen pada kuartal I 2026, sementara Indonesia tumbuh 5,6 persen, serta China dan Maroko masing-masing tumbuh 5 persen.

Gede menjelaskan bahwa kinerja pasar saham lebih sering dipengaruhi oleh likuiditas, sentimen geopolitik, dan stimulus moneter, dibandingkan kondisi ekonomi masyarakat sehari-hari. Ia merujuk pada pengalaman saat pandemi Covid-19, di mana bursa saham sempat menguat meskipun ekonomi riil mengalami kontraksi.

Menanggapi situasi domestik, Gede menilai kebijakan ekonomi di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto memiliki potensi besar untuk memperkuat fundamental ekonomi nasional dalam jangka panjang.

Langkah-langkah strategis seperti pembentukan PT DSI, penguatan bursa komoditas, dan kewajiban penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) dinilai mampu meningkatkan penerimaan negara serta memperkokoh ketahanan ekonomi.

Namun, tantangan eksternal tetap membayangi dalam jangka pendek. Ketidakpastian geopolitik global, terutama situasi di Selat Hormuz, masih menjadi faktor risiko utama yang dapat memengaruhi sentimen investor.

Oleh karena itu, Gede menekankan pentingnya keberlanjutan reformasi struktural, perbaikan tata kelola institusi, serta akselerasi implementasi program prioritas pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional di tengah gejolak pasar keuangan global.

Rekomendasi