Jakarta – Tren penurunan harga minyak mentah dunia diprediksi terus berlanjut seiring dengan normalisasi jalur distribusi di Selat Hormuz.
Data dari Trading Economics menunjukkan harga minyak mentah jenis WTI berada pada posisi US$ 69,23 per barel per [Jumat, 26/6/2026].
Angka tersebut mencerminkan koreksi harga sebesar 21,93 persen dalam kurun waktu satu bulan terakhir.
Research and Development ICDX, Taufan Dimas Hareva, menyatakan bahwa pergerakan harga minyak saat ini cenderung bearish.
Sentimen utama yang menekan harga adalah adanya ancaman dari Irak untuk keluar dari aliansi OPEC.
Selain itu, pemulihan ekspor minyak oleh Saudi Aramco di pelabuhan Ras Tanura turut memberikan tekanan signifikan pada pasar.
Meski demikian, fluktuasi ketegangan di Selat Hormuz masih menjadi faktor pembatas yang mencegah penurunan harga lebih tajam.
Perdana Menteri Irak, Ali al-Zaidi, mengungkapkan bahwa pemerintahnya mempertimbangkan untuk keluar dari OPEC.
Langkah ini akan diambil jika aliansi tersebut tetap membatasi peningkatan kuota produksi minyak bagi Baghdad.
“Ancaman tersebut memicu kekhawatiran akan keseimbangan pasokan karena akan memungkinkan Irak sebagai produsen terbesar kedua di aliansi OPEC untuk meningkatkan produksi secara signifikan, terlebih setelah OPEC sebelumnya kehilangan produsen terbesar ketiga, UEA, pada bulan April,” ujar Taufan kepada wartawan, [Jumat, 26/6/2026].
Tekanan pada harga juga datang dari keputusan Saudi Aramco untuk kembali mengoperasikan terminal Ras Tanura.
Operasional terminal tersebut sempat terhenti selama hampir empat bulan sebelum akhirnya kembali dilakukan pemuatan minyak.
Data pengiriman menunjukkan dua kapal supertanker telah melakukan pemuatan minyak mentah di terminal Teluk tersebut.
Di sisi lain, situasi geopolitik di Timur Tengah tetap menjadi faktor yang memicu ketidakpastian pasar global.
Organisasi Maritim Internasional PBB sempat menghentikan sementara pengawalan kapal di Selat Hormuz pasca insiden proyektil di dekat Oman.
Otoritas Iran menegaskan bahwa keamanan kapal yang melintas di luar rute resmi Selat Hormuz tidak dapat dijamin.
Hal ini memunculkan keraguan baru terkait keberlangsungan kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
Kekhawatiran pasar juga dipicu oleh bantahan Israel terhadap klaim penarikan pasukan dari zona penyangga di Lebanon Selatan.
Pejabat keamanan senior Lebanon pun menyatakan tidak mengetahui adanya penarikan pasukan tersebut.
“Situasi tersebut memicu kekhawatiran akan membuat konflik kembali memanas, yang sekaligus dapat mempengaruhi kesepakatan damai antara AS dan Iran saat ini,” tambah Taufan.
Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai bahwa pasar saat ini tengah menghadapi kondisi kelebihan pasokan atau oversupply.
Menurutnya, meski kondisi geopolitik memanas, pembukaan jalur Selat Hormuz membuat transportasi minyak tetap berjalan normal.
“Di sisi lain produksi Venezuela minyak mentah tidak terpengaruh gempa bumi karena tidak berdampak ke kilang minyak yang ada. Ini membuat harga minyak mentah condong mengalami penurunan,” ujar Ibrahim.
Taufan memprediksi harga minyak akan berada di kisaran resistance US$ 74 per barel dengan potensi support di level US$ 69 per barel.
Sementara itu, Ibrahim memproyeksikan harga minyak mentah akan stabil di level US$ 70 per barel hingga kuartal III tahun 2026.


















