Jakarta – Dialog antara serikat pekerja dan manajemen berhasil menggagalkan rencana relokasi besar-besaran dua pabrik komponen otomotif asal Jepang ke Vietnam.
Kedua perusahaan tersebut adalah PT JAI di Pasuruan dan PT SAI di Mojokerto yang berada di bawah naungan Grup Yazaki.
Sebelumnya, perusahaan sempat berencana memindahkan 50 persen lini produksi mereka ke luar negeri.
Namun, kesepakatan baru memastikan hanya tiga hingga lima lini produksi saja yang akhirnya dipindahkan.
Presiden KSPI sekaligus Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, Said Iqbal, mengonfirmasi keberhasilan negosiasi tersebut.
“Yang rencananya besar-besaran, hanya 50 persen enggak jadi. Hanya 3 sampai 5 line saja, line produksi yang dipindahkan ke Vietnam,” ujar Said Iqbal dalam konferensi pers daring, Minggu (28/6).
Terkait nasib tenaga kerja, Said memastikan tidak akan ada pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di kedua pabrik tersebut.
Ia menjelaskan bahwa perampingan jumlah karyawan hingga tahun 2030 akan dilakukan secara alamiah.
“Sampai 2030 kalaulah terjadi perampingan jumlah karyawan sampai tahun 2030, itu lebih, apa namanya, secara alamiah. Yaitu karyawan-karyawan kontrak yang habis kontraknya, maka mereka tidak memperpanjang kontraknya,” jelasnya.
Meski demikian, Said membuka peluang perpanjangan kontrak kerja bagi karyawan jika permintaan pasar otomotif kembali meningkat.
Ia mencontohkan, jika permintaan dari grup Toyota atau produsen mobil lainnya melonjak, perusahaan dapat kembali memperpanjang kontrak kerja.
Berdasarkan rencana bisnis perusahaan hingga 2030, diperkirakan akan terjadi pengurangan tenaga kerja sekitar 20 persen hingga 30 persen secara bertahap.



















