Dinamika Makroekonomi Global Berpotensi Mengguncang Harga Emas Pekan Depan

persen

Jakarta – Pasar emas dunia diprediksi akan mengalami pergerakan harga yang fluktuatif sepanjang pekan depan akibat tingginya dinamika makroekonomi global.

Berdasarkan data Trading Economics, harga emas saat ini bertengger di level 4.087 dolar AS per troy ons setelah mencatatkan penguatan harian sebesar 1,49 persen.

Meski demikian, angka tersebut masih menunjukkan koreksi sebesar 1,56 persen jika dibandingkan dengan posisi harga dalam sepekan terakhir.

Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan harga emas dunia akan bergerak di kisaran 3.786 hingga 4.344 dolar AS per troy ons dalam tujuh hari ke depan.

Untuk pasar domestik, harga logam mulia diperkirakan akan berada pada rentang Rp 2.530.000 hingga Rp 2.750.000 per gram.

Ibrahim merinci, jika harga emas mengalami tekanan, level support pertama diprediksi berada di 3.959 dolar AS per troy ons atau setara dengan Rp 2.640.000 per gram.

Apabila pelemahan berlanjut, support kedua berada pada level 3.786 dolar AS per troy ons, dengan harga logam mulia di angka Rp 2.530.000 per gram.

Sebaliknya, jika pasar kembali bergairah, resistensi pertama diproyeksikan berada di level 4.175 dolar AS per troy ons atau Rp 2.680.000 per gram.

Potensi penguatan lanjutan dapat mendorong harga emas hingga menyentuh resistensi kedua di level 4.344 dolar AS per troy ons atau Rp 2.750.000 per gram.

“Logam mulia dalam sepekan range-nya diperkirakan di Rp 2.530.000 hingga Rp 2.750.000 per gram,” ujar Ibrahim pada Minggu, 28 Juni 2026.

Ibrahim menjelaskan bahwa volatilitas harga emas saat ini dipicu oleh perpaduan antara eskalasi geopolitik, kebijakan bank sentral Amerika Serikat, hingga ancaman perang dagang global.

Ketegangan di Timur Tengah kembali mencuat setelah terjadi insiden penyerangan kapal tanker oleh Iran menggunakan drone di Selat Hormuz.

Meskipun dampaknya dinilai tidak terlalu signifikan terhadap pasokan minyak global, insiden tersebut tetap menjadi perhatian serius bagi pemerintah Amerika Serikat.

“Walau kondisi memanas tetapi Selat Hormuz masih tetap dibuka, ini kemungkinan besar kenaikan minyak tidak terlalu terjadi karena transportasi sudah normal,” ungkap Ibrahim.

Faktor lain yang memengaruhi harga emas adalah potensi peningkatan tarif impor oleh Amerika Serikat terhadap mitra dagangnya, meski kebijakan tersebut sempat terganjal aturan hukum di negara tersebut.

Di sisi lain, keputusan bank sentral Amerika Serikat dalam mempertahankan suku bunga acuan menjadi variabel penentu bagi arah harga emas ke depan.

Normalisasi transportasi minyak melalui Selat Hormuz diharapkan dapat menekan inflasi melalui penurunan harga gasoline dan bahan pokok.

Kondisi tersebut memberikan ruang bagi bank sentral Amerika Serikat untuk tetap mempertahankan suku bunga agar tidak membebani ekonomi lebih lanjut.

Para pelaku pasar kini tengah memantau ketat setiap rilis data ekonomi dari Amerika Serikat yang akan menjadi acuan utama pergerakan komoditas emas dalam waktu dekat.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar